Sabtu, 16 November 2013

Lightbulb 11 Peristiwa dalam Sejarah Islam yang Terjadi di Bulan Ramadan

Bulan Ramadhan tidak sebatas sebagai bulan suci bagi umat Muslim. Dalam sejarah Islam, sejumlah peristiwa besar yang sangat menentukan dan bermakna bagi umat Muslim terjadi di bulan ini. Sedikitnya, ada 11 peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam, baik klasik ataupun modern. Apa sajakah peristiwa-peristiwa tersebut?

Berikut 11 Peristiwa Bersejarah Islam di Bulan Ramadhan.

1. Pembebasan Makkah (Fathul Makkah)

Apa itu Fathul Makkah? Peristiwa Fathul Makkah adalah sebuah peristiwa di mana akhirnya Nabi Muhammad dan para sahabat berhasil menguasai Makkah dan menghancurkan berhala-berhala di sekitarnya. Sehingga Ka'bah kembali suci. Peristiwa ini bermula dari perjanjian Hudaibiyah tahun 628 M. Ini adalah perjanjian antara kaum muslimin dan kaum Quraisy. Perjanjian ini terjadi ketika satu rombongan yang dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad hendak melaksanakan haji di Baitullah. Namun, pihak Quraisy melihatnya sebagai sebuah ancaman. Jika orang-orang dari Madinah, yang notabene adalah rival dari kafir Quraisy datang ke Makkah, maka apa tanggapan orang-orang nanti? Untuk itulah, pemuka-pemuka Quraisy dengan segala daya upaya menyusun sebuah strategi, yaitu mengikat kaum muslimin dalam suatu perjanjian agar tidak dapat leluasa mengunjungi Makkah. Dan terjadilah perjanjian Hudaibiyah. Ketakutan kaum kafir Quraisy ini wajar muncul, sebab setelah Nabi saw dan beberapa ratus sahabat hijrah dari Makkah menuju Yatsrib (Madinah), antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy hampir selalu terjadi peperangan yang tak terelakkan. Dalam pengepungan selama 20 hari oleh 10 ribu pasukan Quraisy terhadap Madinah pada tahun 627 M, Nabi Muhammad saw dan 3.000 umat Islam berhasil mempertahankan Madinah.

Isi perjanjian Hudaibiyah antara lain:
  • Pertama, gencatan senjata selama sepuluh tahun
  • Kedua, orang Islam dibenarkan memasuki Makkah pada tahun berikutnya, tinggal di sana selama tiga hari saja dengan hanya membawa sebilah senjata.
  • Ketiga, bekerja sama dalam perkara yang membawa kepada kebaikan.
  • Keempat, orang Quraisy yang lari ke pihak Islam harus dikembalikan ke Makkah.
  • Kelima, orang Islam yang lari ke Makkah tidak dikembalikan ke Madinah,
  • keenam, kedua belah pihak boleh membangun kerja sama dengan kabilah lain tapi tidak boleh membantu dalam hal peperangan.

Akhirnya pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Makkah, dan kemudian menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikit pun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka'bah.

2. Bulan Diturunkan Alquran

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Alquran: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)..." (QS Al Baqarah: 185)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan: “Allah SWT memuji Ramadan di antara bulan-bulan lainnya, karena Dia telah memilihnya di antara semua bulan sebagai bulan yang padanya diturunkan Al-quran yang agung". Sebagaimana Allah mengkhususkan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Alquran, sesungguhnya telah disebutkan oleh hadits bahwa pada bulan Ramadhan pula kitab Allah lainnya diturunkan kepada para Nabi sebelum Nabi Muhammad saw.

Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan: "Lembaran-lembaran (shuhuf) Nabi Ibrahim diturunkan pada permulaan malam Ramadan dan kitab Taurat diturunkan pada tanggal enam Ramadan, dan kitab Injil diturunkan pada tanggal tiga belas Ramadan, sedang Alquran diturunkan pada tanggal dua puluh empat Ramadhan.” (HR. Ahmad dalam Musnad, dan dinyatakan hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, no. 1575)

3. Peristiwa Perang Badar

Pada hari Jumat 2 Ramadhan tahun ke-2 H terjadi perang pertama dalam Islam yang dikenal Perang Badar. Badar adalah nama tempat di sebuah lembah yang terletak di antara Madinah dan Makkah. Tentara Islam mengontrol lokasi strategis dengan menguasai sumber air yang ada di daerah tersebut.

Perang ini melibatkan tentara Islam sebanyak 313 anggota berhadapan dengan 1.000 tentara musyrikin Makkah yang lengkap bersenjata. Dalam perang ini, tentara Islam memenangkan pertempuran dengan 70 tentara musyrikin terbunuh, 70 lagi ditawan. Sisanya melarikan diri.

Perang ini adalah suatu yang luar biasa ketika tentara Islam yang kurang jumlah, lemah dari sudut kelengkapan dan berpuasa dalam bulan Ramadan memenangkan pertempuran Perang Badar. Ini membuktikan puasa bukan penyebab umat Islam bersikap lemah dan malas sebaliknya berusaha demi mencapai keridhaan Allah. Orang yang berjuang demi mencapai keridhaan Allah pasti mencapai kemenangan yang dijanjikan.

"Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya" (QS Al-Imran:123)

4. Islam Masuk ke Yaman

Yaman terletak di selatan semenanjung tanah Arab. Nabi Muhammad mengutus Ali bin Abi Thalib dengan membawa surat beliau untuk penduduk Yaman khususnya suku Hamdan. Dalam periode satu hari, semua mereka memeluk agama Islam secara aman. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada bulan Ramadan tahun ke-10 hijrah.

5. Khalid bin Walid Meruntuhkan Berhala Al ‘uzza

Setelah umat Islam membebaskan kota Makkah, Nabi Muhammad saw menyucikannya dengan memusnahkan 360 patung di sekeliling Ka'bah. Lima hari sebelum berakhirnya Ramadhan tahun ke-9 H, Rasulullah mengirim Khalid bin Walid untuk memusnahkan patung al 'Uzza di Nakhla. Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, al 'Uzza adalah patung dewi terbesar di daerah tersebut. Khalid bin Walid melaksanakan tugas itu dengan bergerak menuju ke Nakhla lalu menghancurkan patung al 'Uzza. Setelah itu, penyembahan patung pun berakhir.

6. Penyerahan Kota Taif

Kota Taif pernah mencatat sejarah ketika penduduknya mengusir Nabi Muhammad saw saat berdakwah di sana. Setelah beliau dan umat Islam berhasil membebaskan Makkah, kaum Bani Thaqif bersikeras tidak mau tunduk kepada Nabi Muhammad.

Nabi muhammad dan tentara Islam lalu maju ke Taif dan mengepungnya dalam waktu lama. Akhirnya kaum Bani Thaqif datang ke Makkah di bulan Ramadan tahun ke-9 H dengan menyerahkan kota Taif sebagai tanda menyerah.

7. Pembebasan Andalusia (Spanyol)

Andalus adalah nama Arab yang diberikan kepada wilayah-wilayah bagian semenanjung Liberia yang diperintah oleh orang Islam selama beberapa waktu mulai tahun 711 sampai 1492 M. Pada 28 Ramadan tahun ke-92 H, panglima Islam bernama Tariq bin Ziyad dikirim pemerintahan Bani Umayyah untuk menawan Andalus.

Tariq memimpin armada Islam menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa. Setelah pasukan Islam mendarat, Tariq membakar kapal-kapal tentara Islam agar mereka tidak berpikir untuk mundur. Akhirnya pasukan Tariq berhasil menguasai Andalus dan menyelamatkan rakyat Andalus yang dizalimi. Islam bertapak di Andalus selama delapan abad.

8. Peperangan Zallaqah di Portugal

Peristiwa ini terjadi setelah subuh hari Jumat, bulan Ramadan tahun 459 H. Ketika itu, terjadi kebangkitan dinasti Murabit di Afrika Utara. Gubernur Cordova, Al Muktamin meminta bantuan Sultan Dinasti Murabit, Yusuf bin Tasyifin untuk memerangi Alfonso VI.

Tentara yang dipimpin oleh Alfonso VI yang berjumlah 80.000 tentara berhasil dikalahkan. Dalam waktu yang singkat Sultan Yusuf berhasil menguasai seluruh Spanyol dan menyelamatkan umat Islam. Setelah itu, Dinasti Murabit di Spanyol berdiri sejak 1090 sampai 1147 M.

9. Tentara Islam Mengalahkan Tentara Mongol

Pada tahun 126 sampai 1405 M, kaum Mongol melebarkan penaklukannya hampir semua benua Asia. Menurut sejarah, kekaisaran penaklukan mereka seluas 33 juta kilometer persegi. Jenderal tentara Mongol dikenal sebagai Genghis Khan. Dalam misi penaklukan itu, mereka membunuh lebih sejuta rakyat negara yang dikalahkan. Penaklukan mereka menjangkau sampai ke Moscow dan Kiev.

Pada tahun 1258, tentara pimpinan jenderal Hulagu Khan menyerbu kota Baghdad yang menjadi kemegahan Dinasti Abbasiah. Dalam serangan itu, banyak umat Islam terbunuh dan banyak buku karangan sarjana Islam dibuang ke dalam Sungai Eufrat dan Dajlah sehingga airnya menjadi hitam karena tinta. Pada 15 Ramadan 658 H bersamaan 1260 M, tentara Islam bangkit membuat serangan balas. Tentara Islam dan para ulama pimpinan Sultan Qutuz dari dinasti Mamluk, Mesir menyerbu ke Palestina setelah Mongol menguasainya. Kedua pihak bertemu di Ain jalut. Terjadilah Perang Ain Jalut.

Dalam pertempuran itu, tentara Islam meraih kemenangan dan berhasil menawan Kitbuqa Noyen, penasihat Hulagu Khan yang menasihatinya untuk menyerang Baghdad. Kitbuqa akhirnya dieksekusi. Kemenangan itu adalah suatu yang luar biasa saat Mongol yang terkenal dengan kekerasan akhirnya kalah pada tentara Islam.

10. Peperangan Yakhliz

Pada 15 Ramadan 1294 H, tentara Islam dari Dinasti Ottoman yang dipimpin oleh Ahmad Mukhtar Basya dengan jumlah 34.000 anggota mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000. Sebanyak 10.000 tentara Rusia tewas dalam pertempuran itu. Ia menjadi kebanggaan umat Islam mempertahankan agama yang diancam oleh pemerintah Tzar di Rusia.

11. Direbutnya Garis Bar Lev, Israel

Dalam sejarah modern, terjadi Perang Yom Kippur yang melibatkan tentara Islam (Mesir dan Syria) dengan tentara Israel pada 10 Ramadan 1390 H bertepatan dengan 6 0ktober sampai 22 atau 24 Oktober 1973 M. Perang Yom Kippur, juga dikenal sebagai perang Arab-Israel 1973, Perang Oktober, dan Perang Ramadan.

Ia adalah bagian dari konflik Arab-Israel sejak dari tahun 1948. Pada bulan Juni 1967, terjadi perang enam hari antara Israel dengan Mesir, Syria dan Yordania. Dalam pertempuran itu, Israel berhasil menduduki bukit Golan, Syria, di utara dan semenanjung Sinai, Mesir, di selatan hingga ke kanal Suez. Setelah itu, Israel membangun barisan pertahanan di Sinai dan bukit Golan. Pada tahun 1971, Israel mengalokasikan USD 500 juta untuk membangun benteng dan kerja tanah raksasa yang dinamai Garis Bar Lev, mengambil nama jenderal Israel, Haim Ber Lev.

Tentara Islam berhasil merebut benteng itu sekaligus mengalahkan Israel. Antara peristiwa menarik dalam perang ini adalah peran seorang sarjana Islam merangkap sebagai Imam Masjid kota Suez, Syeikh Hafiz Salamah yang memimpin peperangan.

FAKTA SEJARAH ISLAM YANG DISEMBUNYIKAN NEGARA BARAT


FAKTA SEJARAH ISLAM YANG DISEMBUNYIKAN NEGARA BARAT

[BENDERA+ISLAM.jpg]
Sejarah adalah peristiwa yang sudah terjadi, namun baru ditulis kemudian, jauh setelah kejadian sebenarnya berlalu. Sebagai cerita masa lalu sejarah mudah untuk dimanipulasi, dan disampaikan kepada generasi berikutnya yang hanya bisa menerima mentah-mentah informasi itu sebagai kebenaran.
Informasi mengenai penemuan-penemuan sains dan teknologi yang pernah kita terima kebanyakan berasal dari buku-buku pengetahuan Barat. Penemu-penemu yang disebut sebagai yang pertama di dunia itu pun dipuji sebagai orang yang berjasa kepada ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Abad pertengahan, masa kegelapan di Barat
Sejak jatuhnya kekaisaran Romawi tanggal 4 September 476, ketika kaisar terakhir dari kekaisaran Romawi Barat, Romulus Augustus, diberhentikan oleh Odoacer, seorang Jerman yang menjadi penguasa Itali setelah Julius Nepos meninggal pada tahun 480, maka dikatakan Eropa telah memasuki Masa-masa Kegelapan (Dark Ages). Masa-masa Kegelapan ini berlangsung kira-kira dari tahun 476 itu hingga Renaisans, sekitar tahun 1500-an. Renaisans disebut juga masa kelahiran kembali Eropa, atau kelahiran kembali budaya Yunani dan Romawi Purba, berupa kemajuan di bidang seni, pemikiran dan kesusasteraan yang mengeluarkan Eropa dari kegelapan intelektual abad pertengahan.
Kembalinya budaya Yunani dan Romawi Purba tersebut direbut dari tangan ilmuwan-ilmuwan Islam setelah mengalami perkembangan yang luar biasa. Dengan tanpa malu-malu, plagiator-plagiator Eropa itu mengklaim bahwa penemuan-penemuan sains dan teknologi itu adalah hasil usaha mereka.

Fakta-fakta sejarah sebenarnya
Sekarang, saya mencoba mengutipkan untuk anda, fakta sebenarnya yang terjadi, bahwa penemuan-penemuan sains dan teknologi itu sebagian besar berasal dari masa kejayaan Kekhalifahan Islam, oleh para sarjana Muslim. Semoga pengetahuan ini dapat disampaikan kepada anak-cucu kita dan menjadi penyadar bahwa kita sebenarnya mempunyai potensi yang sangat besar untuk menguasai kembali sains dan teknologi, dan tidak hanya menjadi pemakai atau korban teknologi.

Sejak 5.000 tahun SM
Masa perkembangan kebudayaan Mesir Purba. Menghasilkan limas-limas (piramida) yang hebat, sistem pengairan yang baik dan sistem bintang yang cukup bagus. Namun ilmu bintang (astronomi) masih tercampur-aduk dengan ilmu perbintangan (astrologi). Ahli-ahli pengetahuan adalah pendeta-pendeta yang tidak mengenal batas antara logika, takhayul, dan kepercayaan, yaitu pemuja tritunggal Apis-Isis-Osiris.

Sejak 4.000 tahun SM
Masa perkembangan kebudayaan India Purba. India dengan kecenderungan samadinya lebih terkungkung dalam metafisika, monisme (menunggalnya manusia dengan dewata), dan pantheisme (hadirnya dewata di dalam segala yang ada). Mewariskan pengetahuan Astadhyayi, tata bahasa Sanskrit oleh Panini (kurang lebih 400 tahun SM) adalah pembahasan ilmiah ilmu bahasa yang mendahului pembahasan oleh Aristoteles (384-322 SM) dan bernilai jauh lebih tinggi.


Sejak lebih dari 2.000 tahun SM
Merupakan masa perkembangan kebudayaan Tiongkok Purba. Dengan pengetahuan bercorak kudus (sacral, scared). Mereka berpikir bahwa segala pemberian berasal dari Thian dan bukan obyektif-empirik, hasil ikhtiar manusia secara sistematik. Cara berpikir manusia Tiongkok Purba pada umumnya masih berdasarkan firasat dan renungan, belum kritik-analitik.


Sejak lebih dari 1.000 tahun SM
Berkembangnya kebudayaan Parsi Purba. Penemuan jentera (roda gigi/gir) dalam pembuatan tembikar, dan kini mulai dari jam tangan yang terkecil hingga roket angkasa yang terbesar menggunakan jentera di dalam mesinnya.


Sejak 500 tahun SM
Dimulainya kebudayaan Yunani-Romawi. Dengan filsafat anthroposentrik (manusia berada pada pusat segala aktivitas) mereka di dalam banyak hal berlawanan dengan kecenderungan-kecenderungan niskala Mesir Purba, India Purba, Tiongkok Purba, dan Parsi Purba serta bersikap akliah (rational). Kecendrungan berpikir seolah-olah manusia berdiri di luar alam dan melihat alam sebagai suatu yang terpotong-potong, maka lahirlah pengertian jagat besar (makrokosmos) dan jagat kecil (mikrokosmos). Tidak ada batas antara filsafat dan pengetahuan.


48 SM – 371
Penyerbuan Julius Caesar, kaisar Romawi, pada tanggal 48 SM menghancurkan karya-karya asli ilmu filsafat dan pengetahuan Yunani di perpustakaan-perpustakaan Iskandariah. Kemudian pada 272 M Kaisar Romawi berikutnya, Lucius Domithius Aurelianus, dan Kaisar Theodosius Magnus pada 371 M melakukan hal yang sama.


476
Awal Eropa memasuki masa kegelapan (Dark Ages), yaitu sejak jatuhnya kekaisaran Romawi terakhir tanggal 4 September 476 di mana kaisar Romawi Barat, Romulus Augustus, diberhentikan oleh Odoacer.


571
Kelahiran Nabi Muhammad Saw pada tanggal 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah (bertepatan dengan 20 April 571). Disebut Tahun Gajah disebabkan pada tahun itu Raja Abrahah dari Yaman dengan 60 ribu pasukan bergajahnya ingin menghancurkan Kabah (Baitullah) di Makkah, namun digagalkan Allah Swt dengan serangan burung ababil yang melempari pasukan itu dengan batu berapi (QS.Al-Fiil). Muhammad Saw adalah Rasul terakhir utusan Allah Swt yang membawa risalah kenabian untuk seluruh umat manusia dan alam semesta.


610
Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama, yakni Alquran surah Al-alaq ayat 1-5 yang diawali dengan kalimat “iqro” yang artinya bacalah. Kalimat ini menjadi awal ditemukannya metoda ilmiah, yakni metode empirik-induktif dan percobaan yang menjadi kunci pembuka rahasia-rahasia alam semesta yang menjadi perintis modernisasi Eropa dan Amerika.
Guna penyebaran agama, dikembangkanlah gerakan yang bertujuan membuat “melek” huruf yang belum pernah ada bandingannya pada masa itu. Kepandaian baca tulis tidak lagi menjadi monopoli kaum cendikiawan. Ini adalah langkah pertama gerakan ilmu secara besar-besaran.
Konsep tentang karantina pertama kali diperkenalkan dalam abad ke-7 oleh Nabi Muhammad Saw, yang dengan bijaksana memperingatkan supaya hati-hati ketika memasuki atau meninggalkan suatu daerah yang terkena wabah penyakit. Sejak abad ke-10, dokter-dokter Islam berinovasi dengan mengisolasi individu-individu penderita penyakit dan mengasingkannya ke arah utara. Sedangkan konsep karantina yang dikembangkan di Venice, Italia pada tahun 1403 bukanlah yang pertama di dunia.


660 – 750
Kekuasaan Daulah Umayyah menguasai Damsyik (Spanyol) tahun 629 M, Syam dan Irak tahun 637 M, Mesir sampai Maroko tahun 645 M, Persia tahun 646 M, Samarkand tahun 680 M, seluruh Andalusia tahun 719 M, dan akhirnya tertahan di Poiteier pada tahun 732 M dalam usahanya memperluas pengaruh ke Prancis.


700-an (Kompas, navigasi, ensiklopedi geografi, kalender, peta dunia)
Ahli ilmu geografi Islam dan navigator-navigatornya mempelajari jarum magnet – mungkin dari orang Cina, namun para navigator itulah yang pertama kali menggunakan jarum magnet di dalam pelayaran. Mereka menemukan kompas dan menguasai penggunaannya di dalam pelayaran menuju ke Barat. Navigator-navigator Eropa bergantung pada juru-juru mudi Muslim dan peralatannya ketika menjelajahi wilayah-wilayah yang tak dikenal. Gustav Le Bon mengakui bahwa jarum magnet dan kompas betul-betul ditemukan oleh Muslim dan orang Cina hanya berperan kecil. Alexander Neckam, seorang Inggris, seperti juga orang Cina, mungkin belajar tentang kompas dari pedagang-pedagang Muslim, namun dikatakan bahwa dialah orang pertama yang menggunakan kompas dalam pelayaran. Dan orang Cina memperbaiki keahlian mereka yang berhubungan pelayaran setelah mereka mulai berinteraksi dengan Muslim selama abad ke-8.
Diceritakan bahwa ilmu geografi dihidupkan kembali abad ke-15, ke-16 dan ke-17 ketika pekerjaan Ptolemius di masa lampau ditemukan. Penjelajah dengan ekspedisi-ekspedisi Portugis dan Spanyol juga mendukung hal ini. Risalah pertama berbasis ilmiah tentang geografi dihasilkan selama periode ini oleh sarjana-sarjana Eropa.
Namun apakah fakta sesungguhnya? Ahli geografi Islam menghasilkan buku-buku yang tak terhitung tentang Afrika, Asia, India, Cina dan orang-orang Indian selama abad ke-8 hingga abad ke-15. Tulisan-tulisan itu mencakup ensiklopedi geografi pertama di dunia, almanak-almanak dan peta jalan. Karya-karya agung abad ke-14 oleh Ibnu Battutah menyediakan suatu pandangan yang terperinci mengenai geografi dunia di masa lampau. Ahli geografi Muslim dari abad ke-10 sampai abad ke-15 telah melampaui hasil dari orang-orang Eropa tentang geografi daerah-daerah ini dengan baik ketika memasuki abad ke-18. Para penjelajah Eropa menyebabkan kehancuran pada lembaga pendidikan, sarjana-sarjana dan buku-buku mereka. Mereka tidak memberikan makna apa pun pada perkembangan ilmu geografi untuk dunia Barat.

735
Khalifah Abu Ja’far Abdullah Al-Manshur mempekerjakan para penerjemah yang menerjemahkan buku-buku kedokteran, ilmu pasti, dan filsafat dari bahasa Yunani, Parsi dan Sanskrit, di antaranya terdapat Bakhtaisyu Kabir alias Bakhtaisyu ibnu Jurijs ibnu Bakhtaisyu, Al-Fadzj ibnu Naubakht dan anaknya Abu Sahl Tiamdz ibnu Al-Fadzl ibnu Naubakht, serta Abdullah ibnu Al-Muqaffa.

740-an
Berbagai bentuk jam mekanik dihasilkan oleh insinyur-insinyur Muslim Spanyol, ada yang besar dan kecil, dan pengetahuan ini kemudian sampai ke Eropa melalui terjemahan buku-buku mekanika Islam ke bahasa Latin. Jam-jam ini menggunakan sistem picu beban. Gambar desain dari beberapa bagian gir dan sistem kerjanya juga ada. Jam seperti itu dilengkapi dengan buangan air raksa, jenis yang kemudian secara langsung dijiplak oleh orang-orang Eropa selama abad ke-15. Sebagai tambahan, selama abad ke-9, Ibn Firnas dari Spanyol Islam, menurut Will Durant, menemukan sebuah alat yang mirip arloji sebagai penanda waktu yang akurat. Ilmuwan-ilmuwan Muslim juga membangun bermacam jam-jam astronomi yang sangat akurat untuk digunakan dalam observatorium-observatorium mereka.

Tetapi dikatakan kepada kita bahwa sampai abad ke-14, satu-satunya jenis jam yang ada adalah jam air. Di tahun 1335, sebuah jam mekanis yang besar dibangun di Milan, Italia. Dikatakan bahwa jam ini adalah jam berpicu beban pertama di dunia.

750 – 1258
Kekuasaan Daulah Abbasiah di Baghdad (Irak)

765
Fakultas kedokteran pertama didirikan oleh Jurjis ibnu Naubakht.

800
Ibn Firnas, seorang penemu Muslim Spanyol, tercatat sebagai orang yang pertama membangun dan menguji sebuah pesawat terbang pada tahun 800-an. Roger Bacon belajar tentang pesawat terbang dari referensi-referensi ilmuwan Muslim mengenai pesawat terbangnya Ibnu Firnas. Belakangan yang dikenal adalah penemuan oleh Bacon, ditanggali sekitar 500 tahun kemudian dan Da Vinci sekitar 700 tahun kemudian.
Para ahli matematika Islam yang menemukan aljabar memperkenalkan konsep tentang menggunakan huruf-huruf sebagai variabel-variabel yang tak dikenal dalam persamaan-persamaan sejak abad ke-9. Melalui sistem ini, mereka memecahkan berbagai persamaan-persamaan yang kompleks, termasuk kuadrat dan persamaan pangkat tiga. Mereka menggunakan simbol-simbol untuk mengembangkan dan menyempurnakan teorema binomial. Jadi Francois Vieta, seorang ahli matematika Prancis, bukanlah yang pertama menggunakan lambang-lambang aljabar pada tahun 1591. Dia menulis persamaan-persamaan aljabar dengan huruf-huruf seperti x dan y, dan mengatakan bahwa penemuannya ini mempunyai dampak serupa dengan kemajuan dari penggunaan angka Romawi ke angka Arab.
Dikatakan bahwa selama abad ke-17 Rene Descartes telah menemukan bahwa aljabar bisa digunakan untuk memecahkan persoalan geometris. Tetapi jauh sebelumnya, yakni sejak abad ke-9, para ahli matematika di masa kekhalifahan Islam sudah melakukan hal yang sama. Pertama adalah Thabit bin Qurrah, kemudian diikuti oleh Abu Al-Wafa pada abad ke-10 dengan membukukan kegunaan Aljabar untuk mengembangkan geometri menjadi eksak dan menyederhanakan sains.
Diinformasikan juga kepada kita bahwa tadinya tidak ada perbaikan sejak dibuatnya ilmu bintang selama Abad Pertengahan mengenai gerakan planet-planet sampai abad ke-13. Lalu seorang bijaksana dari Kastil (Spanyol Tengah) bernama Alphonso menemukan Tabel Alphonsine, yang lebih akurat dibanding tabel milik Ptolemius.
Fakta sebenarnya adalah ahli ilmu falak (ilmu bintang) Islam membuat banyak perbaikan-perbaikan atas penemuan Ptolemius sejak abad ke-9. Mereka adalah ahli ilmu falak pertama yang memperdebatkan gagasan-gagasan kuno Ptolemius. Di dalam kritik mereka atas orang-orang Yunani, mereka manyatukan bukti bahwa matahari adalah pusat dari sistem matahari dan bahwa garis orbit bumi dan planet-planet lainnya boleh jadi berbentuk lonjong (elips). Mereka menghasilkan ratusan tabel-tabel astronomikal dengan keakuratan tinggi dan gambar-gambar bintang. Banyak dari kalkulasi mereka sangat akurat sehingga mereka dihormati pada masa itu. Tabel milik Alphonso (Alphonsine Tables) hanyalah sekedar salinan dari pekerjaan ilmu bintang yang dipancarkan ke Eropa melalui Islam di Spanyol.
Disebutkan pula bahwa seorang sarjana Inggris bernama Roger Bacon pada tahun 1268 untuk pertama kali membuat lensa kaca untuk meningkatkan penglihatan. Pada waktu yang hampir bersamaan, kacamata bisa didapat dan telah digunakan di Cina dan Eropa. Tentu saja kacamata sudah muncul sebelum kacamata Roger Bacon selesai pembuatannya, karena Ibnu Firnas dari Spanyol Islam sudah menemukan kacamata pada abad ke-9, dan diproduksi serta dijual di wilayah Spanyol selama lebih dari dua abad. Setiap sebutan kacamata oleh Roger Bacon, maka itu hanyalah sebuah pengaliran kembali pekerjaan Al-Haytham, orang yang memiliki hasil riset yang dijadikan referensi oleh Bacon.
Sarjana-sarjana Islam dari abad ke-9 sampai ke-14 mempelajari dan menemukan ilmu etnografi. Sejumlah ahli geografi Muslim menggolongkan ras-ras, mencatat secara terperinci penjelasan kebiasaan-kebiasaan budaya unik mereka dan penampilan fisiknya. Para ahli Muslim itu menulis ribuan halaman mengenai topik ini. Pekerjaan seorang Jerman bernama Johann F. Blumenbach (1752-1840) yang mengaku sebagai yang pertama menggolong-golongkan ras ke dalam 5 golongan besar (kulit putih, kuning, coklat, merah dan hitam), tidak sebanding dengan pekerjaan-pekerjaan ahli geografi Muslim itu.

813
Pada masa kekuasaan Khalifah Al-Maimun ibnu Harun Al-Rasyid didirikan Daru Al-Hikmah atau Akademi Ilmu Pengetahuan pertama di dunia, yang terdiri dari perpustakaan, pusat pemerintahan, observatorium bintang, dan universitas (Daru Al-Ulum.

850
Ahli kimia Islam menghasilkan kerosin (minyak tanah murni) melalui penyulingan produk minyak dan gas bumi (Encyclopaedia Britannica, Petroleum) lebih dari 1.000 tahun sebelum Abraham Gesner, orang Inggris, mengaku sebagai yang pertama menghasilkan kerosin dari penyaringan aspal.

866
Kertas tertua yang menjadi contoh untuk dicetak di dunia Barat adalah sebuah naskah Arab berjudul Gharib Al-Hadist oleh Abu ‘Ubyad Al-Qasim ibnu Sallam bertanggal Dzulqaidah 252 atau 13 Nopember – 12 Desember 866, yang masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

900-an
Pabrik kertas muncul di Mesir, kemudian di Maroko tahun 1100 M, dan di Spanyol tahun 1150 M yang sudah berhasil membuat kertas putih dan berwarna.
Bandul ditemukan oleh Ibnu Yunus al-Masri selama abad ke-10, orang yang pertama mempelajari dan mendokumentasikan gerakan bergetarnya. Hasil perhitungannya digunakan dalam jam-jam yang diperkenalkan oleh ahli ilmu Fisika Muslim selama abad ke-15. Baru pada abad ke-17 Galileo yang masih remaja telah menciptakan bandul. Diceritakan bahwa dia melihat cahaya api pada lampunya berayun-ayun tertiup angin, lalu dia pulang ke rumah dan menemukan bandul dengan inspirasi itu.
Dikatakan bahwa trigonometri dikembangkan oleh bangsa Yunani, padahal di masa itu Trigonometri hanya tinggal teori. Teori itu kemudian dikembangkan dan mencapai tingkat kesempurnaan yang modern di tangan sarjana-sarjana Muslim, dan penghargaan untuk itu secara khusus pantas diberikan kepada al-Battani. Dialah yang menguraikan kata-kata fungsi dasar dari ilmu pengetahuan ini, seperti sinus, kosinus, tangen, dan kotangen. Istilah sebelumnya berasal dari terminologi Arab, Jaib untuk sinus yang berarti garis bengkok, istiwa’ untuk kotangen yang berarti bayangan lurus dari gnomon, dan tangen adalah bayang-bayang melintangnya. Selain menetapkan dengan akurat tabel perhitungan trigonometri dari 0 hingga 90 derajat, dia juga berhasil dengan tepat menghitung satu tahun matahari atau masehi, yaitu 365 hari 5 jam 46 menit dan 24 detik.
Sebelumnya diketahui bahwa persamaan pangkat tiga yang sulit dan masih belum terpecahkan hingga abad ke-16 ketika Niccolo Tartaglia, seorang ahli matematika Italia berhasil memecahkannya. Kenyataannya persamaan pangkat tiga seperti itu dan juga banyak persamaan-persamaan dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi sudah dapat dipecahkan dengan mudah oleh para ahli matematika Muslim sejak abad ke-10.
Selama abad ke-10 atau lebih awal, ratusan ahli matematika Muslim menggunakan dan menyempurnakan teorema binomial. Mereka memulai penggunaannya untuk solusi yang sistematis atas persoalan aljabar. Namun dikatakan bahwa Isaac Newtonlah yang mengembangkan teorema binomial pada abad yang ke-17.
Demikian juga dikatakan bahwa Robert Boyle, dalam abad ke-17, yang pertama mengembangkan ilmu kimia, padahal beberapa ahli kimia Muslim, termasuk Ar-Razi, Al-Jabr, Al-Biruni dan Al-Kindi, melaksanakan eksperimen-eksperimen ilmiah dalam ilmu kimia sekitar 700 tahun sebelum Boyle melakukannya. Durant menulis bahwa orang Islam memperkenalkan metode percobaan pada ilmu pengetahuan ini. Humboldt meyakini bahwa orang Islam sebagai penemu ilmu Kimia.
Paul Ehrlich (abad ke-19) disebut sebagai pencipta obat-obatan kemoterapi, yakni pemakaian obat-obatan yang khusus untuk membunuh mikroba, padahal dokter-dokter Islam telah menggunakan berbagai macam unsur pokok yang spesifik untuk menghancurkan mikroba. Mereka menggunakan belerang (Sulfur) sebagai bahan utama khusus untuk membunuh kuman kudis. Ar-Razi (pada abad ke-10) menggunakan campuran air raksa sebagai antiseptik yang penting.
Banyak ahli kimia Muslim telah menghasilkan alkohol sebagai obat-obatan terapeutik melalui penyulingan sejak abad ke-10 dan melakukan pabriksasi alat-alat penyulingan yang pertama untuk digunakan dalam proses kimiawi. Mereka menggunakan alkohol sebagai bahan pelarut dan antiseptik, jauh sebelum Arnau de Villanova, seorang Spanyol pada tahun 1300, yang mengaku telah membuat alkohol yang pertama di dunia.
Diberitakan bahwa anestesia modern ditemukan pada abad ke-19 oleh Humphrey Davy dan Horace Wells. Sebenarnya anesthesia modern ditemukan, dikuasai dan disempurnakan oleh ahli anestesia Muslim 900 tahun sebelum kedatangan Davy dan Wells. Mereka menggunakan cara oral seperti juga anestesia yang dihirup.
Sejak abad ke-10 dokter-dokter Islam dan ahli bedahnya sudah menggunakan alkohol sebagai pencegah infeksi ketika membersihkan luka-luka, jadi pencegahan infeksi yang dilakukan oleh ahli bedah dari Inggris, Joseph Lister pada tahun 1865 bukanlah yang pertama. Ahli bedah di Spanyol yang Islam menggunakan metoda-metoda khusus untuk memelihara antisepsis sebelum dan selama perawatan. Mereka juga memulai tindakan-tindakan khusus untuk memelihara kesehatan selama periode pasca operasi. Tingkat sukses mereka sangat tinggi, sehingga penjabat-penjabat tinggi di seluruh Eropa datang ke Cordova, Spanyol, untuk meminta pelayanan kesehatan yang dapat diperbandingkan dengan “Mayo Clinic” di Abad Pertengahan.
Menurut apa yang kita ketahui, William Harvey menemukan sirkulasi darah pada awal abad ke-17. Dia yang pertama dengan benar menguraikan fungsi jantung, pembuluh nadi dan vena. Galen dari Roma telah memperkenalkan ide yang salah mengenai sistem peredaran darah, dan Harvey yang pertama menetapkan bahwa darah dipompa ke seluruh tubuh via oleh kerja jantung dan klep-klep pembuluh darah. Oleh karena itu, dia dihormati sebagai pendiri ilmu tubuh manusia (physiology).
Tetapi 7 abad sebelumnya, yakni pada abad ke-10, Ar-Razi menulis sebuah risalah yang mendalam mengenai sistem pembuluh darah, dan dengan teliti digambarkannya fungsi pembuluh darah dan klep-klepnya. Ibnu An-Nafs dan Ibnu Al-Quff (pada abad ke-13) mendokumentasikan secara penuh tentang sirkulasi darah dan dengan tepat menggambarkan ilmu urai tubuh dari jantung dan fungsi klep-klepnya 300 tahun sebelum Harvey. William Harvey adalah seorang lulusan Universitas Padua yang terkenal di Itali, yang pada waktu itu mayoritas kurikulumnya didasarkan pada teks buku Ibnu Sina dan Ar-Razi.

960
Gerbert d’Aurillac, seorang Perancis, menerjemahkan buku-buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin, dan dengan ini, era penerjemahan buku-buku ilmiah Islam dimulai. Gerbert kemudian menjadi Paus Sylvester II, meskipun begitu dia masih disebut tukan sihir karena kepercayaannya terhadap sains yang sangat ditentang oleh gereja pada masa itu.

1000-an
Kaca dan cermin digunakan di Spanyol Islam. Orang-orang Venesia belajar tentang seni membuat peralatan berbahan gelas yang bagus dari seniman-seniman pembuat kaca dari Syria selama abad ke-9 dan ke-10. Namun yang diketahui umum cermin dan kaca diproduksi pertama kali tahun 1291 di Venesia.
Dikatakan pula bahwa pada abad ke-17 Isaac Newton mengadakan penyelidikan tentang prisma, lensa-lensa dan cahaya. Padahal dalam abad ke-11 Al-Haytham telah menetapkan hampir segala sesuatu yang dikemukakan oleh Isacc Newton mengenai ilmu optik itu, jauh berabad-abad sebelumnya, dan Al-Haytham dihormati oleh banyak penguasa pada masa itu sebagai “penemu optik.” Demikian juga mengenai penyelidikan tujuh variasi warna yang dibiaskan oleh prisma, selain telah lebih dulu dipelajari oleh Al-Haytham, pada abad ke-14 Kamal Ad-Din juga melakukannya.
Ada dugaan kalau Newton sedikit dipengaruhi oleh Al-Haytham. Al-Haytham adalah ilmuwan fisika yang paling banyak dijadikan referensi di Abad Pertengahan. Pekerjaan-pekerjaannya digunakan dan dikutip oleh sebagian besar sarjana-sarjana Eropa selama abad ke-16 dan 17, tidak sebanding dengan Newton dan Galileo seandainya digabungkan.
Dalam abad ke-16 dikatakan bahwa Leonardo Da Vinci menjadi pendiri ilmu geologi ketika ia mencatat fosil-fosil yang ditemukan di pegunungan yang diindikasi sebagai asal-muasal cairan bumi. Tetapi kenyataanya pada abad ke-11, Al-Biruni membuat dengan tepat perngamatan ini dan menambahkannya ke dalam ilmu geologi, termasuk sebuah buku yang sangat besar, ratusan tahun sebelum Da Vinci dilahirkan. Ibnu Sina mencatat hal ini dengan baik. Jadi sangat mungkin kalau Da Vinci pertama kali belajar konsep ini dari terjemahan buku-buku Islam ke dalam bahasa Latin. Da Vinci tidak menambahkan pengetahuan apa pun yang asli dari dirinya.

1030
Jauh sebelum Paracelsus (abad ke-16) dikatakan menemukan candu yang disuling untuk anesthesia, dokter-dokter Islam sudah memperkenalkan nilai anestetik dari candu asli selama Abad Pertengahan. Candu mula-mula digunakan sebagai bagian dari anestetik oleh orang Yunani. Paracelus adalah seorang murid yang memperlajari pekerjaan-pekerjaan Ibnu Sina, dan dari situlah hampir dipastikan dia memperoleh ide ini.

1050
Konsep keterbatasan materi alam pertama kali ditekuni oleh Al-Biruni, seorang sarjana besar Islam dari Persia dalam tahun 1050. Konsep mengenai wujud materi alam yang bisa berubah namun massanya tetap, seperti air yang jika dipanaskan akan berubah menjadi uap, namun massa total tetap sama. Tapi dikatakan bahwa penemunya adalah Antione Lavoiser pada abad ke-18, padahal Lavoiser adalah seorang murid dari para ahli ilmu kimia dan fisika Muslim pada masanya dan sering mengambil referensi dari buku-buku mereka.
Disebutkan bahwa Nicolas Desmarest pada tahun 1756 adalah orang pertama yang mempelajari tentang pembentukan geologi lembah-lembah, dengan teorinya bahwa lembah-lembah itu dibentuk dalam suatu periode yang lama oleh waktu dan aliran udara. Padahal Ibnu Sina dan Al-Biruni membuat dengan tepat penemuan itu dalam abad ke-11, 700 tahun sebelum Desmarest melakukannya.
Al-Biruni adalah orang yang melakukan eksperimen besar pertama di dunia. Dia menulis lebih dari 200 buku, dan banyak ilmuwan yang mendiskusikan eksperimen-eksperimennya. Hasil karyanya berupa sejumlah literatur ilmiah berbagai bidang ilmu pengetahuan dalam 13.000 halaman, jauh melebihi apa yang ditulis oleh Galileo digabungkan dengan Newton. Jadi tidak benar bahwa Galileo adalah orang pertama yang melakukan eksperimen besar di dunia pada abad ke-17.

1121
Al-Khazini, ilmuwan Muslim kelahiran Bizantium atau Yunani tahun 1115 dan wafat 1130 adalah saintis yang serba bisa yang menguasai astronomi, fisika, biologi, kimia, matematika serta filsafat. Dia telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan sains modern, salah satunya adalah kitab Mizan al-Hikmah atau Balance of Wisdom. Buku yang ditulisnya dalam tahun 1121 itu mengungkapkan bagian penting fisika Islam. Dalam buku itu, Al-Khazini menjelaskan sacara detail pemikiran dan teori yang diciptakannya tentang keseimbangan hidrostatika, konstruksi dan kegunaan, serta teori statika atau ilmu keseimbangan, hidrostatika dan pusat gravitasi. Al-Khazini dan ilmuwan Muslim lainnya merupakan yang pertama menjeneralisasi teori pusat gravitasi dan mereka adalah yang pertama kali menerapkannya ke dalam benda tiga dimensi. Para ilmuwan Muslim, salah satunya al-Khazini telah melahirkan ilmu gravitasi yang kemudian berkembang di Eropa.

Jelas di sini Isaac Newton sangat terlambat mengemukakan teori Gravitasi di dalam bukunya Philosophia Naturalis Principia Mathematica yang dipublikasikan tahun 1687, 500 tahun lebih setelah buku Al-Khazini membahas hal yang sama. Jadi bagaimana dengan cerita apel yang jatuh itu?

1130
Gerard da Cremona, orang Italia yang tinggal di Spanyol, menerjemahkan 92 buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin. Buku terjemahannya itu antara lain Al-Asrar (rahasia-rahasia) karya Abu Bakr Muhammad ibnu Zakaria Ar-Razi (bhs.Ltn.Razes, Rases, atau Rhazes), sebuah karya dokter Abu Az-Zahrawi tentang metoda pembedahan, buku karya Abu Muhammad Dhiyauddin Al-Baithar (bhs.Ltn.Alpetagrius) mengenai tumbuh-tumbuhan.
Giovanni Morgagni (1682-1771), orang Itali yang dihormati sebagai bapak pathology (ilmu penyakit) karena dikatakan sebagai orang pertama yang dengan benar menguraikan sifat alami penyakit. Namun jauh sebelum Giovanni melakukannya, para ahli bedah Islam adalah ahli patologi pertama sesungguhnya. Mereka menyadari secara penuh sifat alami penyakit dan menggambarkan berbagai macam penyakit dengan detil modern. Ibnu Zuhr dengan benar menggambarkan sifat alami radang selaput dada (pleurisy), tuberkulosis (TBC) dan radang kantung jantung (pericardistis). Az-Zahrawi dengan teliti mendokumentasikan ilmu penyakit dari hydrocephalus (air di otak) dan penyakit-penyakit sejak lahir lainnya. Ibnu Al-Quff dan Ibnu An-Nafs memberi uraian-uraian sempurna tentang penyakit-penyakit peredaran darah. Ahli-ahli bedah Islam lainnya memberi uraian-uraian akurat pertama tentang penyakit berbahaya tertentu, termasuk kanker perut, usus dan kerongkongan. Para ahli bedah Islam ini adalah pemula dari pathology (ilmu penyakit), bukan Giovanni Morgagni.

1140-an
Para ahli matematik Islam memperkenalkan bilangan negatif untuk digunakan dalam berbagai fungsi aritmetika sedikitnya 400 tahun sebelum Geronimo Cardano mengakui telah memperkenalkannya dalam tahun 1545, dengan mengatakan bahwa angka-angka bisa kurang dari nol.

1160
Mata air-mata air Nil yang mengalir melalui danau-danau besar di Khatulistiwa telah ditetapkan dengan seksama oleh Al-Idrisi, sedangkan orang-orang Eropa baru menemukannya pada paruh kedua abad ke-19.

1200-an
Informasinya pada tahun 1614, John Napier menemukan logaritma dan tabel logaritmik, namun sejak abad ke-13 para ahli matematika Islam sudah menemukannya dan tabel logaritmik seperti itu sudah umum di dalam dunia pengetahuan Islam pada masa itu.

1205

Amir Ya’qub dalam pertempuran Mahdiyya telah menggunakan artileri sebagai senjata terakhir. Pada tahun 1273, Sultan Abu Yusuf pada pertempuran Sijilmasa di Maroko Selatan mempergunakan meriam-meriam. Pada tahun 1342, dua orang Inggris, Lord Derby dan Lord Salisbury, hadir pada pertempuran Algericas yang dipertahankan dengan cara yang sama oleh orang-orang Arab. Ketika kedua orang Inggris itu menyaksikan daya efek mesiu, maka mereka membawa penemuan ini ke negeri mereka.

1240 – 1250
Seorang frater Katolik Roma anggota Ordo Fransiskan dari Inggris bernama Roger Bacon datang untuk mempelajari bahasa Arab ke Paris dan Toledo karena ada orang-orang Perancis yang pandai berbahasa Arab di sana. Selain itu di sana terdapat banyak terjemahan buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin dan naskah-naskah asli berbahasa Arab.
Dikatakan bahwa perawatan pertama dengan anesthesia (pembiusan) dilakukan oleh C.W. Long, seorang Amerika pada tahun 1845, padahal 600 tahun sebelum Long melakukannya, seorang Muslim Spanyol, Az-Zahrawi dan Ibnu Zuhr, di antara para ahli bedah Muslim lainnya, sudah melaksanakan ratusan perawatan-perawatan melalui cara pembiusan dengan penggunaan narkotika yang direndam pada spon, yang ditempatkan dengan cara menutup wajah.

1250 – 1257
Roger Bacon pulang ke Inggris dan melanjutkan pelajaran Bahasa Arabnya di Universitas Oxford dengan membawa sejumlah besar buku-buku ilmiah Islam dari Paris. Di antaranya Al-Manazhier karya Ali Al-Hasan ibnu Haitsam diterjemahkan Bacon ke dalam bahasa Latin, bahasa ilmiah Eropa pada masa itu.
Terdapat penjelasan-penjelasan mengenai mesiu dan mikroskop pada naskah itu, namun secara tidak jujur dia telah mencantumkan namanya sendiri pada terjemahan-terjemahan itu dan dengan demikian dia telah melakukan plagiat terang-terangan.
Sangat berbeda dengan penerjemah-penerjemah Muslim yang menerjemahkan karya-karya Pythagoras, Plato, Aristoteles, Aristarchos, Euclides dan Claudius Ptolemaios, dan lain-lain dengan tetap menyebutkan nama pengarang-pengarang aslinya.

1300-an
Dimulai abad Renaisans (B.Perancis Renaissance) atau kelahiran kembali, di mana ditemukan kembali cerahnya peradaban Yunani dan Romawi (yang dianggap sebagai “klasik”) ketika keduanya mengalami masa keemasan. Renaisans berlangsung antara abad ke-14 hingga abad ke-17 di Eropa. Tampak di sini, bahwa kebangkitan Eropa yang diawali dengan Renaisans erat hubungannya dengan kembalinya penerjemahan buku-buku ilmiah Islam ke dalam bahasa Latin, antara lain Gerbert d’Aurillac, orang Perancis yang menjadi Paus Sylvester II (tahun 960), Gerard da Cremona, orang Itali (tahun 1130), Seorang frater Katolik Roma, Roger Bacon dari Inggris (tahun 1250).
Dikatakan bahwa tahun 1454, Johan Gutenberg (1398 – 1468) menemukan mesin cetak paling canggih di abad pertengahan. Faktanya, alat cetak berbahan kuningan yang dapat dipindahkan telah digunakan di Spanyol Islam 100 tahun sebelumnya, ketika Gutenberg belum lahir.

1400-an
Dikatakan bahwa sistem desimal di dalam matematika pertama kali dikembangkan oleh seorang Belanda, Simon Stevin, tahun 1589. Sistem desimal membantu ilmuwan matematika karena menggantikan bilangan pecahan yang sulit, sebagai contohnya 1/2, dengan menggunakan desimal menjadi 0,5.
Padahal para ahli matematika Islam adalah yang pertama menggunakan sistem desimal sebagai ganti bilangan pecahan secara besar-besaran. Buku Al-Kashi, berjudul “Kunci kepada Aritmatika”, yang ditulis pada awal abad ke-15 dan menjadi stimulus untuk aplikasi sistematis sistem desimal untuk seluruh bilangan dan pecahan-pecahannya.

1600-an
Francis Bacon – seorang Bacon yang lain, menyebarluaskan teori induksi dan percobaan-percobaan ilmiah (eksperimen) atau empirisme ilmiah di dalam karya-karyanya The Advencement of Learning (1605), Novum Organum (1620), De Augmentis Scientiarum (1623), Sylva Sylvarum (1624), dan New Atlantis (1624), yang dengan alat cetak buku buatan Johan Gotenburg buku-buku tersebut dicetak.
Kemudian berkembang teori Baconian Philosophy yang kemudian menjadi dasar metode ilmiah pada ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat (Eropa dan Amerika), yang mana metode tersebut sebetulnya merupakan jiplakan Bacon dari ilmu pengetahuan di dunia Islam.
Sumber:

Rabu, 13 November 2013

Dunia ini Tiada Lain Hanyalah Aset

Dunia ini Tiada Lain Hanyalah Aset


qaradhawyDunia ini tiada lain adalah aset. Umat manusia harus menikmati sebagian dari dunia yaitu bumi dan seisinya. Bumi adalah habitat manusia, dan isinya adalah pakaian, makanan dan kendaraan. Semua ini hanyalah bagaikan makanan ternak untuk binatang yang membawa manusia (sebagai tuannya) dalam perjalanan menuju Allah SWT. Umat manusia tidak dapat hidup tanpa manfaat-manfaat itu, sama seperti seekor unta yang dipakai untuk perjalanan haji menuju Mekkah, tidak dapat dipakai kecuali diberi makanan ternak.
Oranya yang makan untuk memelihara dirinya sesuai syariah , akan dihargai, sementara orang yang makan melebihi kebutuhannya akan menjadi orang yang rakus dan untuk itu dia harus dikecam. Tidak disarankan untuk bersikap rakus di dunia ini karena hal itu akan mengubah sesuatu  yang bermanfaat menjadi menjadi sesuatu yang berbahaya dan membuat  seseorang menjadi tak lagi berharga sehingga tidak siap untuk menghadapi  hari Pengadilan. Dia menjadi seperti orang yang memberi makan untanya dan membawakan air , serta mencari pakaian yang paling baik, dan melupakan orang yang ditemaninya dan yang telah pergi melakukan perjalanannya. Orang seperti itu tertinggal sendirian di sebuah lembah dengan untanya, dia kan menjadi mangsa bagi makhluk-mkhluk jahat.
Tidak disarankan untuk berhenti makan, akan tetapi makanlah sekedar yang dibutuhkan untuk memelihara dirimu jangan berlebih-lebihan, sekalipun engkau masih sangat menginginkan. Mengikuti keinginan jiwa berarti membantunya dan memenuhi hak-haknya.
Ali bin Abi thalib  ra berkata, “Kekayaan bukanlah mempunyai banyak uang dan keturunan yang banyak, melainkan mempunyai banyak amal saleh dan kesabaran. Tidak ada yang baik di dunia ini, kecuali untuk dua orang ; 1. Orang yang berhenti melakukan dosa dan terus memohon ampunan, dan orang yang selalu berkeinginan untuk  berbuat baik. Tidak ada perbuatan yang kecil dalam beramal shaleh..”
Saudara-saudaraku se Islam ambilah nasehat dari Sufyahn Ats-Tsauri yang berkata ketika menjawab seseorang yang meminta nasehat kepadanya, “ Bekerjalah untuk dunia ini sesuai keberadaanmu di dalamnya dan bekerjalah untuk akhirat sesuai keberadaanmu di dalamnya . (Hilyat al –Auliya)
Mua’mmil berkata : Aku masuk dan mendapati Sufyan sedang makan beberapa daging goreng dengan beberapa telur. Ketika aku mengomentari hal itu , dia berkata,” Aku tidak menasehatimu untuk makan yang paling baik, tapi aku menasehatimu untuk memperoleh yang paling baik dan makanlah..” (as Siyar)
Diriwayatkan bahwa suatu malam Sufyan Ats- Tsauri sedang makan dan berkata,” Apabila makanan seekor keledai ditambahkan, maka pekerjaannya juga bertambah…”Setelah itu beliau mengerjakan shalat sepanjang malam hingga pagi hari.
Seorang muslim harus  makan dengan tujuan membantu dan memperkuat dirinya untuk beribadah kepada Allah SWT dan makan dalam rangka mematuhi-nya , dan bukan hanya untuk menikmati makanan itu ! Makan itu sebaiknya harus ditujukan kepada niat untuk mematuhi dan memperoleh energi  untuk melakukan berbagai ibadah kepada Allah SWT..
Ibrahim Asy sayaiban berkata,” Aku tidak makan untuk mendapatkan kenikmatan selama delapan puluh tahun..”
Seorang Muslim hendaknya menyedikitkan seleranya akan  berbagai jenis cita rasa (yang senantiasa dibuat sedemikian rupa olahan)  – dan meniatkan makan itu untuk membantu dan menambah kekuatan- karena jika makan dengan niat seperti itu , dia tidak akan tulus kecuali bila dia mengkaitkan itu dengan tidak makan sampai kenyang. Makan sampai kenyang membatasi seseorang untuk bisa ibadah dan justru tidak membuat dirinya kuat. Salah satu cara untuk membantu mewujudkan niat itu adalah dengan pilihan makan yang  mudah dan praktis dalam mengikuti keinginan .
Sa’id bin Abdul Azis ditanya tentang kecukupan dalam hidup dia berkata,” Kenyang atau puas di satu hari , dan lapar di hari yang lain (As siyar  dan Tadzkirah Al Hufadz)
Apa yang kamu katakan kalau ada seseorang yang mengkhawatirkan tentang makan malamnya padahal dia sedang makan siang..??? Dia bertanya tentang apa yang akan dipersiapkan untuk itu  dan lain-lain..Begitu hebat memikirkan tentang perutnya, padahal agamanya sedang dirusak. Dia menikmati karunia Allah SWT dan dalam waktu yang sama dia mengingkari kemurahan Allah SWT .. padahal kemurahan sudah diberikan kepadanya seperti  adanya dua mata, dua telinga , dua tangan dan dua kaki..!
Wahai saudara-saudaraku se Islam , dimanakah kita , kapan kita seperti itu?
Ar Rabi mengalami kelumpuhan dan sudah  sangat lama menderita. Dia sangat menginginkan ayam , tetapi dia menunggu sampai empat puluh hari untuk mengatakan hal itu kepada istrinya. Istrinya membeli  seekor ayam seharga satu Dirham dan kemudian memasak untuk suaminya , tidak lupa membuat roti untuknya, serta menghiasainya dengan beberapa permen atau manisan dan menyiapkan meja baginya. Ketika baru saja mau mulai makan, seorang pengemis datang dipintu rumah dan meminta sedekah darinya , dan dia menyerahkan seraya berkata,” Ambillah ini dan berikan kepadanya,” Istrinya berkata, Aku akan memberikan sesuatu yang lebih baik dari yang dia minta. “suaminya berkata’” Apakah itu?” Istrinya menjawab,” Kita berikan dia uangnya dan engkau mengenyangkan dengan yang engkau senangi,” Suaminya berkata,” Itu  baik, bawakan kepadaku uangnya.” Keitka istrinya membawakan uang seharga ayam, roti dan permen, suaminya berkata, “Letakkan ini di atas ini (makanan) dan berikan semua kepadanya ‘” (Ahsan Al Muhasin).
…….
Yahya  bin Muadz berkata,” betapa miskinnya anak Adam  as, jika mereka takut terhadap api neraka, sama seperti takutnya  kepada kemiskinan, maka dia pasti masuk surga (Tarikh Bagdad) .
Yusuf Qaradhawi

Berbakti Kepada Orang Tua

Berbakti Kepada Orang Tua


qutubia
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا (23) وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (24) رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِنْ تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا (25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’ Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (QS Al-Isra’ [17]: 23-25)
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia…”
Ini adalah perintah untuk mengesakan Sesembahan, setelah sebelumnya disampaikan larangan syirik. Ini adalah perintah yang diungkapkan dengan kata qadha yang artinya menakdirkan. Jadi, ini adalah perintah pasti, sepasti qadha Allah. Kata qadha memberi kesan penegasan terhadap perintah, selain makna pembatasan yang ditunjukkan oleh kalimat larangan yang disusul dengan pengecualian: “Supaya kamu jangan menyembah selain Dia…” Dari suasana ungkapan ini tampak jelas naungan penegasan dan pemantapan.
Jadi, setelah fondasi diletakkan dan dasar-dasar didirikan, maka disusul kemudian dengan tugas-tugas individu dan sosial. Tugas-tugas tersebut memperoleh sokongan dari keyakinan di dalam hati tentang Allah yang Maha Esa. Ia menyatukan antara motivasi dan tujuan dari tugas dan perbuatan.
Perekat pertama sesudah perekat akidah adalah perekat keluarga. Dari sini, konteks ayat mengaitkan birrul walidain (bakti kepada kedua orangtua) dengan ibadah Allah, sebagai pernyataan terhadap nilai bakti tersebut di sisi Allah:
“Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.”
Dengan ungkapan-ungkapan yang lembut dan gambaran-gambaran yang inspiratif inilah Al-Qur’an Al-Karim menggugah emosi kebajikan dan kasih sayang di dahati anak-anak.
Hal itu karena kehidupan itu terdorong di jalannya oleh orang-orang yang masih hidup; mengarahkan perhatian mereka yang kuat ke arah depan. Yaitu kepada keluarga, kepada generasi baru, generasi masa depan. Jarang sekali kehidupan mengarahkan perhatian mereka ke arah belakang..ke arah orang tua..ke arah kehidupan masa silam..kepada generasi yang telah pergi! Dari sini, anak-anak perlu digugah emosinya dengan kuat agar mereka menoleh ke belakang, ke arah ayah dan ibu mereka.
Kedua orang tua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!
Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan ini semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orang tua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!
Dari sinilah muncul perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah.
Setelah itu konteks surat menuangi seluruh suasana dengan keteduhan; dan menggugan emosi dengan kenangan-kenangan masa kecil, rasa cinta, belas kasih dan kelembutan.
“Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu..”
Usia lanjut itu memiliki kesan tersendiri. Kondisi lemah di usia lanjut juga memiliki insprasinya sendiri. Kata عندك yang artinya “di sisimu” menggambarkan makna mencari perlindungan dan pengayoman dalam kondisi lanjut usia dan lemah. “Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka…” Ini adalah tingkatan pertama di antara tingkatan-tingkatan pengayoman dan adab, yaitu seorang anak tidak boleh mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kekesahan dan kejengkelan, serta kata-kata yang mengesankan penghinaan dan etika yang tidak baik. “Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” Ini adalah tingkatan yang paling tinggi, yaitu berbicara kepada orang tua dengan hormat dan memuliakan.
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan…” Di sini ungkapan melembut dan melunak, hingga sampai ke makhluk hati yang paling dalam. Itulah kasih sayang yang sangat lembut, sehingga seolah-olah ia adalah sikap merendah, tidak mengangkat pandangan dan tidak menolak perintah. Dan seolah-olah sikap merendah itu punya sayap yang dikuncupkannya sebagai tanda kedamaian dan kepasrahan. “Dan ucapkanlah, ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’”
Itulah ingatan yang sarat kasih sayang. Ingatan akan masa kecil yang lemah, dipelihara oleh kedua orang tua. Dan keduanya hari ini sama seperti kita di masa kanak-kanak; lemah dan membutuhkan penjagaan dan kasih sayang. Itulah tawajuh kepada Allah agar Dia merahmati keduanya, karena rahmat Allah itu lebih luas dan penjagaan Allah lebih menyeluruh. Allah lebih mampu untuk membalas keduanya atas darah dan hati yang mereka korbankan. Sesuat yang tidak bisa dibalas oleh anak-anak.
Al Hafizh Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dengan sanadnya dari Buraidah dari ayahnya:
“Seorang laki-laki sedang thawaf sambil menggendong ibunya. Ia membawa ibunya thawaf. Lalu ia bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah aku telah menunaikan haknya?” Nabi SAW menjawab, “Tidak, meskipun untuk satu tarikan nafas kesakitan saat melahirkan.”
Oleh karena emosi dan gerak dalam konteks ini terhubung dengan akidah, maka Al-Qur’an mengulangnya dengan mengembalikan semua urusan kepada Allah yang mengetahui niat, dan mengetahui apa yang ada di balik ucapan dan perbuatan.
“Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat.” (25)
Nash ini hadir sebelum melanjutkan bahasan tentang taklif, kewajiban dan adab selanjutnya. Ia hadir untuk mengambalikan setiap ucapan dan perbuatan kepada Allah; untuk membuka pintu taubat dan rahmat bagi orang yang berbuat keliru atau teledor, kemudian kembali dan mengoreksi kekeliruan dan keteledoran tersebut.
Selama hati baik, maka pintu ampunan tetap terbuka. Orang-orang awwab (yang bertaubat) adalah mereka yang setiap kali berbuat keliru maka mereka kembali kepada Tuhan mereka sambil meminta ampun.
Sayid Qutb

Kemana Kalian Akan Pergi?


Kemana Kalian Akan Pergi?

azzamWajib militer … engkau akan temukan seorang pemuda, ia akan berusaha pergi dari satu tempat ke tempat yang lain, supaya diberi stempel, dipercaya dan diberi tanda tangan untuk dapat pergi ke Yordan, kenapa?! Atau ke Saudi atau ke tempat lain, atau ke Tunis atau ke Al Jazair, untuk apa?! Hanya supaya mereka ditangguhkan untuk mengikuti wajib militer..?
Kalian berbuat seperti ini terhadap wajib militer yang ditetapkan oleh pemerintah?
Namun terhadap wajib militer yang ditetapkan oleh Rabb-nya para penguasa, seluruh manusia bukan hanya meminta diundur atau ditangguhkan, akan tetapi mereka akan meninggalkannya sama sekali. Saya katakan kepadanya: Apakah engkau tinggalkan wajib militer yang ditetapkan oleh Rabbul ‘alamin ? namun engkau mau mematuhi wajib militer yang ditetapkan oleh pemerintah?! Apakah ini perbuatan orang berakal?! Bagaimana?! Kemana akal kalian?! Kalian wajib berangkat berperang?! Wajib sebagaimana engkau sholat?!
* Adapun neraka jahannam dan kematian akan lebih dekat daripada tali sandalnya, ia tidak memperdulikannya sama sekali. Bahkan sebagian orang dengan sukarela memberikan nasehat supaya engkau meninggalkan apa yang diwajibkan Allah kepadamu!!!
Ia mengatakan kepadamu: Wahai saudaraku, selesaikan sekolahmu!
Wahai saudaraku, ke mana engkau akan pergi?!
Wahai saudaraku engkau berada di dalam salah satu benteng Islam di sini, di negerimu!
Wahai saudaraku, keberadaanmu di sini di universitasmu akan bermanfaat untuk negaramu!
Apabila engkau pergi meninggalkan negaramu, kepergianmu hanya untuk orang-orang sosialis, komunis, nasionalis dan freemasonry (zionis)!!
Ya .. memang jihad itu wajib, bukan hanya di Afghanistan saja, akan tetapi jihad itu wajib di setiap tempat, berjihadlah di sini, berjihadlah di Palestina. Mereka mengatakan: Wahai saudaraku, pergilah ke selain Afghanistan —  kenapa engkau tidak pergi ke Palestina saja?! Saya tidak tahu .. karena dia tahu bahwa dia tidak akan bisa pergi ke Palestina dan juga orang yang menasehatinya itu juga tidak dapat pergi ke Palestina.
Oleh karena itu, ini semua adalah kewajiban yang terlupakan dan terabaikan. Kewajiban yang telah hilang dari kita sebagai kaum muslimin. Telah hilang dari benak manusia. Engkau dapatkan seseorang tinggal di negerinya dalam keadaan sejahtera, sehat tubuh dan akalnya, fisiknya utuh, muslim, mengerjakan sholat, qiyamullail dan puasa, namun ia tidak datang ke bumi jihad. Sedangkan dia adalah orang yang dihormati ditengah-tengah kaumnya.
Di sisi lain, jika kaumnya melihat dia tidak berpuasa pada bulan romadlon, pasti akan jatuh martabatnya di pandangan mereka. Seandainya mereka melihatnya meninggalkan sholat pasti akan mereka campakkan, mereka tinggalkan dia. Namun jika dia tidak berjihad mereka tidak mencampakkannya dan tidak meninggalkannya … apa bedanya?! Sesungguhnya dosa orang yang tidak berpuasa itu lebih ringan — wallohu a’lam — di sisi Alloh daripada orang yang tidak berjihad fi sabilillah .. kenapa?! Karena orang yang tidak berpuasa hanya akan membahayakan dirinya sendiri, sedangkan orang yang tidak berjihad itu membahayakan dirinya dan umat Islam secara keseluruhan:
وما لكم لا تقاتلون في سبيل الله والمستضعفين من الرجال والنساء والولدان الذين يقولون ربنا أخرجنا من هذه القرية الظالم أهلها واجعل لنا من لدنك وليا واجعل لنا من لدنك نصيرا
Mengapa kalian  tidak mau berperang di jalan Alloh dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo’a:”Ya Rabb kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau”. (An Nisa’:75)
-Abdullah Azzam-

Muslim itu Merdeka, dan Bersujud hanya untuk Allah

Muslim itu Merdeka, dan Bersujud hanya untuk Allah


qutb2Diceritakan oleh Sayyid Quthb dalam bukunya Keadilan sosial Islam (Al Adalah Al ijtimaiyyah fi al Islam) , cerita yang didengarnya dari Ahmad Syafik Pasya , ahli sejarah  yang terkenal,  yang hidup pada masa pemerintahan Ismail di Mesir. Peristiwa ini berkenaan dengan kunjungan Sultan Abdul Azis ke Mesir pada masa pemerintahan Ismail.
Ismail betul-betul menyambut gembira kunjungan ini karena itu termasuk dalam program untuknya mendapatkan gelar “Khadive” , berikut hak-hak istimewa lainnya dalam pemerintahan Mesir . Salah satu acara kunjungan  itu adalah temu muka antara ulama Mesir dengan khalifah. Tradisi yang biasa berlangsung setiap orang yang memasuki ruang pertemuan nanti terlebih dahulu harus sujud ke tanah dan memberikan penghormatan ala Turki tiga kali, dan upacara-upacara lainnya yang sama sekali tidak terdapat dalam ajaran Islam. Untuk itulah jauh-jauh hari sebelumnya, kepada para ulama itu diberikan latihan upacara oleh para petugas istana agar tiba saatnya pertemuan itu mereka tidak akan melakukan kesalahan di depan Sultan Turki itu.
Tibalah saat yang dinanti-nantikan itu, dengan tertib para ulama yang mulia itu pun memasuki ruangan, mereka benar-benar mengikuti upacara itu dengan melupakan ajaran agamanya dan menukarnya dengan tatacara duniawi . Satu persatu mereka sujud di depan sesama makhluk , kemudian keluar dengan cara membelakangi pintu, sementar muka tetap menghadap Sultan- persis seperti yang diinstruksikan parap pengawal istana. Hanya satu orang saja yang tidak mau melakukan ketololan itu, yaitu Syekh Hasan al-Adawi. Ia tetap teguh pada ajaran agamanya, dengan mencampakkan kehormatan dunia. Ia tetap memegang prInsip bahwa yang mulia dan pantas untuk dihormati dan sujud kepada   hanyalah Allah subhanahu wa Ta’ala.
Ia memasuki ruangan tetap dengan kepala tegak sebagai seorang yang merdeka menghadap sesamanya. Lalu menghadap Sultan dengan menyampaikan salam,” Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mukminin”. Kemudian dilanjutkan dengan memberikan petuah-petuah dan nasihat. Selesai acara tatap muka pun ia menyampaikan salam dan keluar dengan kepala tegak.
Melihat sikap ulama yang satu ini, gemetarlah semua calon Khadive dan pegawai istana, rasanya bumi yang mereka injak sudah terballik. Khalifah pasti murka, demikian anggapan mereka dan kalau betul itu terjadi niscaya lenyaplah sudah harapan memperoleh gelar Khadive yang sudah lama diidam-idamkan.
Akan tetapi, iman terhadap kebenaran tak mungkin sirna begitu saja, selalu ada kalbu yang siap melontarkannya dengan penuh keberanian dan merdeka, sebagaimana tertanamnya iman itu pun dengan kuat dan merdeka pula. Dengan apa yang terjadi kemudian..? Sultan Turki itu bukannya murka malahan berkata : “ Kalian sama sekali tak memiliki ulama, selain yang satu ini!” setelah peristiwa itu, Ismail dipecat dari jabatannya dan digantikan orang lain.
*********
Kisah  berikut ini terjadi di Darul Ulum antara Khadive Taufik Pasya dan Syeikh Hasan Ath-Thawil. Adalah kebiasaan Prof. Hasan Ath-Thawil selalu mengenakan pakaian sederhana, Sekalipun ia guru besar pada perguruan tinggi tersebut. Pada hari wisuda sarjana, inspektur pendidikan mengumumkan bahwa khadive taufiq bermaksud mengunjungi perguruan tinggi yang  diasuhnya. Maka dipersiapkanlah acara penyambutan dengan mempercantik madrasah tersebut dan yang termasuk ‘diperbaharui’ adalah penampilan Prof. Hasan ath-Thawil agar menggunakan busana yang lebih necis dan modis.
Untuk maksud tersebut dikirimkan kepadanya seperangkat jubah kebesaran lengkap dengan toganya, sehingga dengan demikian diharapkan penampilannya cukup layak untuk menyambut pembesar negerinya.
Tibalah pada hari yang ditentukan.. ternyata sang prorofessor masih tetap dengan penampilannya sehari-hari sambil ditangannya terkepit sapu tangan besar pembungkus pakaian kebesaran itu.
Melihat penampila  professor yang seperti tu merah padamlah wajah inspektur pendidikan , lau mendekatinya dan bertanya,” Dimana anda simpan jubah dan toga itu ,  Professor?”
“Ini dalam bungkusan” jawab Professor dengan tenang, lalu meninggalkan inspektur itu yang masih menduga barangkali pakaian itu akan dikenakannya menjelang datangnya Khadive nanti. Memikirkan sang Professor akan menggunakannya, agak tenanglah hatinya.
Menitpun berlalu, suara gegap gempita mulai terdengar pertanda iringan Khadive sudah mendekati kampus. Pada saat itu terlihatlah pemandangan yang sangat mengagetkan para dosen, khususnya sang inspektur. Ternyata Syeikh Hasan Ath-Thawil  menyambut sang Khadive dengan  menenteng bungkusan pakaina kebesaran itu.
Ketika berhadapan ia langsung berkata ,” Mereka mengatakan saya harus menyambut Tuan dengan jubah dan toga, itulah sebabnya saya sekarang membawa kedua benda itu. Bila Tuan bermaksud menemui jubah dan toga, maka inilah dia (sembari menyodorkan bungkusan yang sejak tadi dikempitnya). Akan tetapi , bila tuan ingin menemui Hasan Ath-Thawil, sayalah orangnya..”
Mendengar alasan sang Professor itu , dengan amat wajar sang Khadive menjawab bahwa ia ingin menemui Hasan Ath-Thawil dan bukan jubah dan toga itu.
Inilah akhlak seorang mukmin, yang tak pernah merasa terhormat selain dengan keagungan islam. Jiwa dan hati nuraninya tetap bebas merdeka dari semua ikatan nilai-nilai lahiriah yang bersifat fana . Islam telah memberikan pemahaman mendalam terhadap hakikat kebenaran dan menanamkan perasaan tersebut di hati  pemeluknya. Sehingga tidak lagi menganggap perlu pujian dan imbalan dari manusia.    (Lr)

Harta dan Anak Menjadi Fitnah


Harta dan Anak Menjadi Fitnah


qutubiaOleh : As Syahid Sayid Qutb
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu” mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 27-28)
***
Kemudian, diulang lagi seruan kepada orang-orang yang beriman. Dibisikkan lagi kepada mereka bahwa harta dan anak-anak itu kadang-kadang dapat menjadikan manusia tidak mau memenuhi seruan Allah dan seruan Rasul. Karena, takut terhadap nasib anaknya nanti dan karena bakhil terhadap hartanya.
Kehidupan yang diserukan Rasulullah adalah kehidupan yang mulia, yang sudah tentu ada tugas-tugas yang harus dikerjakan untuk mencapainya, harus ada pengorbnan. Oleh karena itu, Alquran mengobati ambisi ini dengan mengingatkan mereka terhadap fitnah harta dan anak-anak. Karena, harta dan anak-anak merupakan tempat ujian dan cobaan.
Alquran juga mengingatkan mereka agar jangan lemah menghadapi ujian ini, jangan mundur dari perjuangan, dan jangan melepaskan diri dari beban amanat, janji, dan baiat.
Alquran menganggap pelepasan diri dari semua ini sebagai pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Juga pengkhianatan terhadap amanat-amanat yang dibebanan kepada umat Islam di muka bumi.
Yaitu, amanat untuk menjunjung tinggi kalimat Allah dan menetapkan uluhiyyah-Nya saja bagi manusia, dan berpesan kepada manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.
Di samping kehati-hatian ini, diingatkan pula mereka terhadap pahala yang besar dari sisi Allah kalau mereka dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak, yang kadang-kadang menghalangi manusia dari berkorban dan berjihad.
Menghindarkan diri dari tugas-tugas sebagai umat Islam di muka bumi merupakan pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul. Persoalan pertama dalam agama Islam ini adalah persoalan ‘Laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah.’ Tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Persoalan mengesakan Allah terhadap uluhiyyah, dan menerima dengan sepenuh hati akan semua ini menurut apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saja.
Manusia dalam seluruh sejarahnya, tak pernah mengingkari keberadaan Allah sama sekali. Mereka hanya mempersekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, yang kadang-kadang, dan ini hanya sedikit, dalam bidang akidah dan ibadah.
Adakalanya, dan ini yang terbanyak, dalam masalah hukum dan kedaulatan. Inilah yang lebih dominan dalam kemusyrikan. Oleh karena itu, persoalan utama agama Islam ini bukan mengajak manusia untuk mempercayai uluhiyyah Allah. Tetapi, mengajak mereka untuk mengesakan uluhiyyah bagi Allah saja, untuk bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah.
Yakni, mengesakan Allah sebagai satu-satunya yang berdaulat mengatur kehidupan mereka di dunia ini. Juga mengakui-Nya sebagai yang berdaulat untuk mengatur alam semesta, sebagai implementasi firman Allah: “Dialah Tuhan (Yang disembah) di langit dan Tuhan (Yang disembah) di bumi.” (QS. Az-Zhukhruf: 84)
Juga mengajak mereka bahwa hanya Rasulullah yang membawa wahyu dari Allah dan menyampaikannya kepada mereka. Dengan demikian, mereka berkewajiban mematuhi segala ajaran yang beliau sampaikan.
Inilah persoalan utama agama Islam, sebagai itikad yang harus ditanamkan dan dimantapkan di dalam hati, dan sebagai gerakan yang harus diaplikasikan di dalam kehidupan. Karena itu, menghindarkan diri dari hal ini adalah pengkhianatan terhadap Allah dan Rasul.
Allah mengingatkan hal ini kepada golongan Islam yang telah beriman kepada-Nya dan telah menyatakan keimanannya ini. Sehingga, mereka mempunyai tugas untuk berjuang guna merealisasikan petunjuknya dalam dunia nyata. Juga supaya bangkit menunaikan tugas jihad ini terhadap jiwa, harta, dan anak-anak.
Allah juga mengingatkan mereka agar jangan mengkhianati amanat yang mereka usung pada hari mereka berbaiat kepada Rasulullah untuk memeluk Islam. Islam itu bukan sekadar ucapan dengan lisan, bukan sekadar retorika dan pengakuan-pengkuan.
Islam adalah manhaj kehidupan yang sempurna dan lengkap. Tetapi, untuk menegakkannya selalu menghadapi hambatan-hambatan dan kesulitan-kesulitan.
Islam adalah manhaj untuk membangun realitas kehidupan di atas landasan Laa ilaaha illallah, yang mengembalikan manusia kepada menyembah Tuhan mereka Yang Mahabenar, mengembalikan masyarakat kepada hukum dan syariat-Nya. Mengembalikan para thaghut yang melampaui batas kepada uluhiyyah Allah dan kedaulatan-Nya dari kezaliman dan tindakan melampaui batas.
Juga, mengamankan kebenaran dan keadilan bagi semua manusia, menegakkan keadilan di antara mereka dengan timbangan yang mantap, memakmurkan bumi, dan melaksanakan tugas khilafah di muka bumi dengan menggunakan manhaj Allah.
Semua itu merupakan amanat yang barangsiapa tidak menunaikannya berarti telah berkhianat, melanggar perjanjian kepada Allah, dan merusak baiat yang telah diikrarkannya kepada Rasulullah.
Mereka semua perlu berkorban, bersabar, dan tabah. Mereka harus dapat menanggulangi fitnah harta dan anak. Juga melihat pahala yang besar di sisi Allah, yang disimpan untuk hamba-hamba-Nya yang terpercaya mengemban amanat-amanat-Nya, yang sabar, suka mengalah, dan suka berkorban.
“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.” (QS. Al-Anfaal: 28)
Alquran ini berbicara kepada eksistensi manusia. Karena, Sang Pencipta mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi pada manusia ini, mengetahui yang lahir dan yang batin, mengetahui jejak-jejak langkah dan perjalanan hidupnya.
Allah mengetahui titik-titik kelemahan pada diri manusia. Dia mengetahui bahwa ambisi terhadap harta dan anak-anak itu merupakan titik kelemahan paling dalam pada diri mereka.
Oleh karena itu, di sini, Dia mengingatkan hakikat pemberian harta dan anak-anak itu. Allah memberikan harta dan anak-anak kepada manusia untuk menguji dn memberi cobaan kepada mereka dengannya.
Harta dan anak termasuk perhiasan dunia yang notabene adalah ujian dan cobaan. Karena, Allah hendak melihat apa yang diperbuat dan dilakukan seorang hamba terhadap harta dan anak ini. Apakah dia mau mensyukurinya dan menunaikan hak-hak nikmat yang diperolehnya itu? Ataukah, malah sibuk dengannya sehingga lupa menunaikan hak-hak Allah?
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (QS. Al-Anbiyaa: 35)
Maka, fitnah atau cobaan itu bukan hanya dengan kesulitan, kesengsaraan dan sejenisnya saja. Tetapi, fitnah itu juga bisa berupa kemakmuran dan kekayaan. Termasuk kemakmuran dan kesenangan itu adalah harta dan anak-anak. “Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan.”
Apabila hati sudah menyadari posisi harta dan anak-anak sebagai ujian dan cobaan, maka kesadaran itu akan membantunya untuk senantiasa berhati-hati, menyadari dan mewaspadai, agar jangan sampai ia tenggelam, lupa, dan terbenam dalam ujian dan fitnah.
Kemudian Allah tidak membiarkan manusia tanpa pertolongan dan bantuan. Karena, manusia itu kadang-kadang merasa lemah, setelah menyadari semua itu, untuk memikul beratnya pengorbanan dan tugas. Khususnya, pada titik kelemahannnya yaitu terhadap harta dan anak-anak.
Maka, Allah memanggil-manggil mereka untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik dan lebih kekal. Sehingga, dengan adanya keinginan untuk mendapatkannya, ia menjadi tabah dan kuat menghadapi ujian itu. “Dan bahwa di sisi Allah terdapat pahala yang besar.”
Allahlah yang memberi manusia harta dan anak. Di balik itu, di sisi-Nya terdapat pahala yang besar bagi orang yang dapat menanggulangi fitnah harta dan anak-anak. Dengan demikian, tidak seorang pun yang pantas mengabaikan amanat dan tidak mau berkorban untuk jihad.
Kesadaran inilah yang dapat membantu manusia yang lemah, yang diketahui oleh Sang Maha Pencipta titik-titik kelemahannya. “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisaa: 28)
Islam adalah manhaj yang lengkap tentang akidah dan pandangan hidup, tarbiyah dan pemberian arahan, masalah kewajiban dan tugas-tugas manusia. Islam adalah manhaj atau aturan Allah Yang Maha Mengetahui, karena Dia Yang Maha Pencipta.
“Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)

Wahai Politik Tanpa Syariat , Engkau Akan Tumpahkan Darah !


Wahai Politik Tanpa Syariat , Engkau Akan Tumpahkan Darah !

alqarny

Semoga Allah melindungiku dan anda dari orang yang telah, akan , atau selalu berpolitik, sebab jika politik telah merasuki hati, pasti akan meresahkannya, dan jika telah memasuki pikiran, pasti akan melemahkannya. Politiklah pemudar kemegahan ilmu dan keelokan  khidmat kepada Allah. Ia menjalar di dalam hati, seperti penyakit rabies di dalam tubuh, dan merecoki pikiran seperti khamar yang memabukkan. Orang yang mereguknya seteguk saja, tidak akan sembuh selama-lamanya.
Politik telah membunuh nyawa orang orang suci , Al-Husain cucu Nabi SAW , menyalib Abdullah Ibnu  Zubair, dan  menyembelih Sa’id ibn Jubair.
Dan, politiklah yang membuat sepi halaqah-halaqah ilmu, ta’lim ta’lim  pencerah kesadaran, dan lembaga- lembaga pengetahuan.
Politik seperti bunglon, setiap hari berganti warna. Seperti Ular, lembut disentuh namun punya racun yang sangat membunuh, Seperti buah Basil, aromanya wangi namun rasanya pahit. Batinnya hanya upaya mengejar yang terdepan, dan penyakit ingin berkuasa, sedang zahirnya atau tampilannya seperti upaya menyelamat manusia, memperbaiki dunia, dan membahagiakan rakyat.
Orang yang terjun ke gelanggang politik tanpa bekal takwa dan niat mencari keridhaan Allah, pasti akan melupakan akhiratnya, menjual agama, melepaskan pahala, melenyapkan ganjaran, meletihkan jiwa, dan menggadaikan kepalanya.
Politik tanpa disertai cahaya wahyu, membawa  syari’at, dan kepentingan agama , tak lain dari hiasan janji-janji palsu dan menipu, bedak kemunafikan, topeng kebatilan, dan tumpukan kebohongan.
24:40
Allah SWT berfirman … “Kegelapan-kegelapan yang tindih menindih. Apabila ia mengeluarkan tangannya, ia nyaris tidak dapat melihatnya. “… (QS. An-Nur [24]:40)
Politik tanpa Syariat Islam adalah penghalalan darah, perampasan harta, dan perbudakan manusia. Itulah tiga dosa manusia, politik kelak akan menjadi jerat bagi si lugu dan perangkap bagi si bodoh.
Orang yang telah terpesona olehnya, jika anda biarkan, mereka akan semakin dahaga, dan jika anda halau, mereka akan semakin dahaga juga. Mereka akan  mengalirkan darah dengan alasan melindungi agama, merampas harta dengan dalih melindungi hak-hak asasi manusia, dan memperbudak manusia manusia dengan semboyan menyatukan suara dan memperbanyak suara.
Orang-orang shaleh sering memilih untuk menghindari politik saat gerbangnya terbuka lebar untuk mereka, meskipun dunia sedemikian menggoda, zaman sangat mendukung, harta begitu menggiurkan, dan umur mereka masih terukur muda . Mereka ditawari berbagai kenikmatan, kesuksesan cepat . Mereka diminta masuk , tetapi mereka menghindar, mereka ditawari kenikmatan , tetapi  mereka tetap menolak. Kemudian setelah itu , datanglah generasi yang rela berimpit-impitan di gerbang politik, mengorbankan apapun meskipun gerbang itu tertutup rapat.
- Syeikh Aidh Al Qarny-

Untold History of Pangeran Diponegoro 43


 
Untold History of Pangeran Diponegoro 43
Untold History of Pangeran Diponegoro 43

  Itu tenda Kanjeng Pangeran,” ujar Ki Singalodra dengan menunjukkan tangan kirinya ke arah sebuah tenda yang tidak berbeda dengan tenda yang lainnya, hanya saja terdapat pohon jati yang meranggas di dekatnya. Ki Singalodra kemudian menuntun kuda hitamnya menyusuri jalan setapak di antara hamparan rumput tersebut menuju tenda tersebut.
Assalamu’alaikum, Ki…”
Tiba-tiba Pangeran Mangkubumi sudah muncul di depan mereka, bagaikan muncul begitu saja dari dalam bumi.
Dengan sedikit terkejut, Ki Singalodra menjawab salam itu, “…eh Kanjeng Pangeran Mangkubumi… Wa’alaikumusalam…
“Siapa yang mengikutimu itu, Ki?”
Ki Singalodra turun dari kudanya dan menjelaskan jika ketiga penunggang kuda dibelakangnya adalah laskar puteri utusan isteri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Retnanningsih, yang hendak menyampaikan kabar terbaru dari Selarong.
“Mereka akan menyampaikan pesan terbaru dari Selarong kepada Kanjeng Pangeran Diponegoro…”
Mangkubumi berjalan mendekati ketiga penunggang kuda perempuan tersebut dan berhenti dua meter dihadapan mereka. Paman dari Diponegoro tersebut kemudian berdiam diri sejenak. Entah apa yang tengah dilakukannya. Setelah itu dia menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Ki Singalodra dan ketiga penunggang perempuan tersebut berjalan kembali. Mangkubumi bahkan mengiringi tamu-tamunya itu berjalan menuju tenda Pangeran Diponegoro, yang ternyata bukan seperti yang ditunjukkan Ki Singalodra, namun lebih ke dalam, hanya berjarak sepuluh meter dari tepi Kali Progo.
Pangeran Diponegoro sendiri ternyata tidak berada di dalam tendanya. Ketika para tamunya sudah tiba di depan tenda, Sang Pangeran ternyata muncul dari balik pepohonan yang rapat dari arah kali. Mangkubumi dan yang lainnya mengucapkan salam yang segera dijawab dengan hangat oleh Diponegoro.
“Wahai laskar puteri, apa yang hendak kalian sampaikan padaku?”
Seorang dari ketiga laskar itu menjawab, “Kami ingin menyampaikan jika saat ini seluruh rakyat Mataram di Selarong dalam keadaan sehat wal-afiat…”
Alhamdulillah ya Rabb…,” ujar Diponegoro.
“Kapten Bouwensch dan pasukannya memang datang dan melakukan penyisiran. Selain di sekitar wilayah gua juga di beberapa rumah penduduk secara acak. Setelah tidak menemukan apa yang dicari, mereka kemudian mengancam penduduk agar tidak ikut-ikutan mendukung perjuangan kita. Setelah itu mereka pergi kembali ke Vredeburg…”
Pangeran Diponegoro mendengarkan dengan penuh seksama. Wajahnya menunduk menekuri lantai rumput yang dilapisi dedaunan kering dan kain lebar yang terlihat sudah lusuh. Dia kemudian berkata dengan pelan, “Bagaimana dengan rakyat di sana. Apakah mereka disakiti atau rumahnya dibakar?”
“Tidak Kanjeng Pangeran. Belanda tidak melakukan pembakaran. Mereka hanya datang dan mengancam kami semua. Mereka juga sempat berusaha mempengaruhi kami jika pemberontakan ini hanyalah alat Kanjeng Pangeran agar bisa menguasai Kraton Ngayogyarakarta Hadiningrat…”
Diponegoro mengucap istighfar. Dia sudah mendengar hal itu sebelumnya. Belanda memang menggunakan segala cara untuk menghancurkan perjuangannya. Diponegoro sama sekali tidak marah. Dia menyadari jika apa yang diperjuangkannya adalah apa yang juga diperjuangkan para nabi Allah dan Rasul-Nya, dari Adam, Musa, Nuh, Ibrahim, Isa, hingga Muhammad Shalallahu wa’allaihi salam. Perjuangan menegakkan ketauhidan merupakan jalan sepi dan sunyi, sangat jauh dari hingar-bingar duniawi.
“Apakah pasukan kafir itu sudah pergi seluruhnya dari Selarong?”
“Betul Kanjeng Pangeran. Mereka tidak lama di Selarong dan kembali secepatnya ke benteng mereka. Laskar kami sudah mengikuti mereka sampai beberapa paal dari batas terluar desa.”
“Paman…,” ujar Diponegoro kepada Mangkubumi.
“Ya, Pangeran.”
“Insya Allah, selarong malam ini sudah aman kembali. Apakah sekarang juga kita kembali atau bagaimana menurut Paman?”
Mangkubumi terdiam sesaat. Kemudian dia menjawab, “Sebaiknya kita mengadakan musyawarah terlebih dahulu, Pangeran.”
Diponegoro menganggukkan kepalanya. “Baiklah jika demikian, Paman. Tolong panggil Kiai Modjo, paman Ngabehi, Ki Guntur Wisesa, Ustadz Taftayani, dan yang lainnya ke sini.”
“Baik, Pangeran.”
Mangkubumi segera meninggalkan tenda dan memanggil sejumlah sesepuh yang biasanya menggelar syuro terlebih dahulu sebelum memutuskan pergerakan pasukan. Pangeran Diponegoro kemudian kembali bertanya pada salah seorang laskar puteri yang masih duduk bersimpuh di hadapannya.
“Siapa nama kalian dan darimana asal kalian?”
Masing-masing dari ketiga laskar puteri tersebut menyebutkan namanya, yaitu Arum, Asih, dan Retnowati. Mereka dari Wonosari, Krapyak, dan Kedu.
“Jika kalian lelah, kalian bisa istirahat terlebih dahulu di tenda keputerian tidak jauh dari sini. Ki Singalodra bisa mengantarkan kalian.”
“Terima kasih Kanjeng Pangeran. Alhamdulillah, kami tidak lelah. Kami akan segera kembali ke Selarong. Adakah pesan atau perintah Kanjeng Pangeran kepada kami semua di sana?”
“Ya. Tolong sampaikan kepada rakyat Mataram yang ada di Selarong, agar mereka tidak perlu takut. Takutlah hanya kepada Allah subhana wa ta’ala, bukan kepada mahluk-Nya. Kita semua akan segera kembali ke sana dan akan terus berjuang hingga agama Allah ini tegak. Sampaikan juga rasa terima kasihku karena kesetiaan mereka dengan perjuangan ini. Mungkin itu saja.”
Ketiga laskar puteri tersebut kemudian pamit dan keluar dari tendanya. Pangeran Diponegoro memerintahkan agar Ki Singalodra mengawal ketiga tamu itu hingga ke batas Sendangsari.
Bersamaan dengan pulangnya ketiga tamu itu, para sesepuh seperti Kiai Modjo, Pangeran Bei, dan yang lainnya terlihat berjalan mendekati tenda Diponegoro. Mereka segera menggelar musyawarah kecil dan akhirnya sepakat jika malam itu juga seluruh pasukan akan kembali ke Selarong.
Insya Allah, kita akan sampai jauh sebelum ayam jantan berkokok,” ujar Pangeran Diponegoro. Yang lain mengaminkan. []
Bab 41
KOLONE KAPTEN BOUWENSCH TIBA KEMBALI di Benteng Vredeburg saat hari masih gelap. Tanpa beristirahat terlebih dahulu, Bouwensch langsung melaporkan semuanya kepada Kolonel Von Jett yang masih saja berada di ruangan kerjanya. Dengan wajah mengantuk, Kolonel Von Jett mendengarkan semua laporan kapten yang bertanggungjawab atas keamanan di seluruh wilayah Karesidenan Ngayogyakarta Hadiningrat itu.
“Kami sengaja tidak menduduki Selarong karena tidak ada urgensinya. Dan dengan kejadian ini, kami berkesimpulan jika pasukan pemberontak belumlah cukup kuat untuk melakukan ancaman langsung ke Yogya. Mereka masih dalam tahap menghimpun kekuatan dan belum mencapai situasi yang cukup untuk berhadapan dengan kita di sini.”
“Ya, ya, bisa jadi itu memang benar,” ujar Kolonel Von Jett. “Namun kamu juga tidak boleh lengah dengan keberadaan mereka. Ingat, mereka sudah berani menghadang kita di Pisangan dan merebut semua senjata kita di sana…”
“Saya kira mereka itu nekat saja. Dan keberuntungan saat itu kebetulan berada di pihak mereka, Kolonel.”
“Mungkin saja demikian…”
“Bagaimana dengan perjalananmu, pergi dan pulang?”
“Aman, Kolonel. Pasukan perintis kita sudah menyingkirkan semua blokade dan rintangan yang mereka buat untuk menghalangi jalan kita. Jalur dari sini ke Selarong sudah aman.”
“Apakah kamu menempatkan pasukanmu di sepanjang jalan itu?”
“Tidak.”
Tiba-tiba Kolonel Von Jett tertawa. Sebentar. Kemudian terdiam dengan tatapan mata yang tajam ke arah Bouwensch. Kapten Bouwensch yang berdiri di hadapannya bingung.
“Kapten! Sudah berapa lama Anda mengamankan karesidenan ini!”
“Siap, Kolonel! Sudah…”
Belum selesai Bouwensch menjawab, Von Jett menukas, “…Anda tidak menempatkan pasukan Anda di sepanjang jalur ke Selarong. Hanya menyingkirkan semua rintangan yang ada. Bagaimana Anda bisa meyakinkanku jika jalur itu sudah aman sekarang! Pemberontak itu bisa saja setiap waktu kembali memblokade dan membuat rintangan-rintangan di jalan itu dengan bebas. Kapten, Anda benar-benar memalukan dengan jawaban itu!”
Bouwensch menyadari kesilapannya. Dia benar-benar tidak bermaksud meyakinkan keamanan jalur itu selamanya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah salah omong. Dan Kolonel Von Jett sudah menelannya mentah-menatah. Tapi bagaimana pun dia harus membela diri.
“Siap, Kolonel! Saya memang salah dengan kalimat itu. Saya hanya ingin menegaskan jika selama perjalanan, pergi dan pulang, jalur itu sudah kami bersihkan. Itu saja…”
Von Jett duduk dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Anda memang salah Kapten. Tapi sudahlah. Pemberontak memang sudah ada di mana-mana. Sekarang kamu istirahatkan pasukan dan bekerjalah kembali seperti biasa. Dan untuk kamu, jangan jauh-jauh dari benteng ini.”
“Siap, Kolonel! Terimakasih!”
Bouwensch pun menghormat dan balik badan, langsung keluar dari ruangan Kolonel Von Jett. [] (Bersambung)

Pelajaran Kisah Dan Faedah Kisah Ashabul Ukhdud

Pelajaran Kisah Dan Faedah Kisah Ashabul Ukhdud


Dari kisah Ashabul Ukhdud yang telah terlebih dahulu dikontribusikan, terdapat berbagai pelajaran dan faedah yang dapat kita petik kemudian dipahami, dipelajari dan diamalkan. Sehingga kisah ini bukan hanya menjadi pengantar tidur ataupun pengetahuan belaka namun memberikan manfaat bagi kehidupan kita di dunia dan akhirat. Amiin
Di antara rentang waktu tertentu Alloh menyiapkan orang-orang yang menegakkan menara agamanya dan menyebarkannya di muka bumi. Sebagaimana Dia menyiapkan pemuda ini untuk menjadi sebab berimannya kaumnya. Hal seperti ini terjadi pula pada umat ini dalam bentuk yang lebih agung dan lebih besar. Alloh telah menyiapkan orang-orang yang menyebarkan, menjaga, dan membela agamanya.
Raja memilih pemuda ini untuk dididik menjadi penyihir  yang dapat menopang kekuasaannya, akan tetapi Alloh menghendakinya menjadi seorang dai shalih yang menghancurkan kerajaannya dan memberi petunjuk manusia kepada agama yang benar. Dan hal ini mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mengambil pelajaran. Alloh menyiapkan untuk agama-Nya orang-orang yang tumbuh di rumah para thaghut agar mereka menjadi dai-dai pemberi petunjuk.
Iman tidak memerlukan waktu yang lama untuk bersemayam di dalam jiwa dan hidup di dalam hati. Kaum pemuda itu yang rela dengan siksa Neraka dunia, maka iman mereka hanya berlangsung beberapa saat saja. Sama dengan mereka adalah para tukang sihir Fir’aun. Ancaman siksa Fir’aun tidak menyurutkan mereka dari iman.
Kadangkala Alloh menampakkan karomah melalui sebagian wali-Nya untuk mendukungnya dengannya dan meneguhkan iman dan keyakinannya. Pemuda ini bukanlah sembarang pemuda. Alloh telah menjawab doanya sehingga binatang itu mati karenanya. Alloh menyembuhkan orang buta dan berpenyakit sopak melalui tangan sang pemuda, juga mengobati orang-orang sakit. Alloh menjawab doanya sehingga dia terbebas dari usaha pembunuhan dan justru bala tentara raja yang diperintahkan untuk membunuhnya, merekalah yang mati.
Mengorbankan jiwa fi sabilillah bukan sedikit pun termasuk bunuh diri. Pemuda ini membeberkan cara yang dengannya raja bisa membunuhnya. Sebagian dari orang-orang mukmin ada yang dilempar ke dalam api, ada pula yang terjun sendiri. Tujuan mereka bukanlah bunuh diri, akan tetapi hal itu mengandung penghinaan kepada para thaghut dan keridhaan dari Rabbul alamin.

Malam Pengantin Helah


Malam Pengantin Helah


malam pengantinCerpen: Fandrik Ahmad & Edu Barus Shaleh
Tak ada makhluk lain yang kuserapahi selain Ma’il. Muak mengenang nama lelaki pincang itu. Aku yang sejak dulu merasa selalu menjadi orang baik-baik dibuatnya menjelma seorang pemanggul dendam; mengutuk seraya hendak mencincang tubuhnya selayak penjual daging sapi kiloan di pasaran.
“Katakan pada Ma’il jangan sekali-kali menindak tanah desa ini atau sampai kutemui batang hidungnya bila tak ingin kupenggal lehernya dengan celurit!” olokku pada setiap warga Pangsonok, desa kelahiran anak pengecut itu, yang kerap kujumpai di pasar Kemisan.
Matahari menggantung di atas pasar semakin mengaduk tempurung kepalaku. Remeh temeh transaksi. Merah mataku karena terik itu. Terbakar serasa sekujur badan seperti kayu kering terpanggang di pembaraan. Sejak Ma’il menjadi helah,[1] ingin rasanya betapa kumis rimbunnya kujadikan sangkar burung ketitit.
“Katakan pada pengecut itu, hai orang-orang Pangsonok! Kutunggu carok besok siang di pekuburan Ki Agung Langkar! Ingat, besok tepat siang bolong! Awas kalau tak kalian sampaikan, kalian juga akan turut menerima amarahku!” Sengakku berkali-kali, tetapi  mereka tetap merespon seperti biasa: memandang sinis sebagai orang tak waras.
Sial! Kepalaku serasa meledak, harus mencari perteduhan. Aha, loak penjual perkakas besi. Lumayan di sana. Kulihat-lihat ratusan celurit mana yang kira-kira pas memenggal leher anak pengecut itu. Betapa bagus semua segala jenis tempaan besi melengkung itu. Geramku menyengat. Ah, bayangan Ma’il turut melengkung. Jatuhlah pilihan pada sebuah celurit paling besar, keras, tajam dan mengkilap. Celurit takabuwan.
Lokana dheging bisa ejai’, lokana ate tada’ tambena kajabana ngero’ dara (daging yang terluka masih bisa dijahit, tapi jika hati yang terluka, tidak ada obatnya kecuali minum darah). Kubayangkan bidang tajam takabuwan mengorok leher Ma’il. Mencincang-cincang tubuhnya menjadi daging kiloan yang akan kujual eceran ke neraka.
E..e…hus…hus. Jangan sentuh barang itu. Pergi sana. Dasar orang gila!” Seketika si penjual merampas celurit itu. Berkali-kali tangannya digerakkan maju-mundur.
***
Ma’il adalah orang yang kupercaya sebagai malaikat yang bisa menolong biduk perkawinanku yang telah retak. Aku mengemis kesudiannya mengawini Marhani, isteriku yang di luar kesadaran kumenjatuhkannya talak tiga. Benar-benar di luar kesadaran. Aku sangat mencintai Marhani. Sumpah, karenanya, dulu aku berani mati sekedar mengais tanda restu orangtua sampai berani bertandang hendak meminang meski sejelasnya jelas berulangkali ditolak mentah-mentah.
“Besar juga nyalimu, Cong! Marhani itu anakku, juragan tembakau! Juragan tembakau! Juragan tembakau!” Geram. Melotot. “Kau orang miskin, berandal, pengangguran. Silsilahmu juga yang tak jelas!” Nyaliku carut-marut tertindas. Kakiku menunduk menjauhi rumah mentereng itu.
Suatu hari pada hari pasaran, Marhani tiba-tiba memanggilku dari jauh. Aku setengah tak percaya mengajak duduk di bawah pohon ketapang. Di pinggiran ujung-ujung jagung menguning di tegalan.
“Maaf karena sikap orangtuaku, Cak,” katanya setengah terbata. Malu, mungkin. “Aku tahu Cacak ke rumahku. Aku senang Cacak hendak meminangku,” Ujung sampirsarungnya dipintal-pintal. Bias matanya menghablur pada batang dan daun jagung.
“Senang? Estoh![2]”Aku kaget campur lega-bahagia. Tekadku tak bertepuk sebelah tangan. Kupikir ia tak suka karena kerap mengindahkan sapaanku.”Oh, berarti kau juga mencintaiku?!” Marhani mengangguk pelan.
Saban hari setelah itu, aku sering menemui Marhani di pasar, di pinggir jalan, atau di tegalan. Merajut tangkai-tangkai asmara secara rahasia. Lain itu, akal terus berjalan memikirkan bagaimana cara mendapatkannya secara ‘halal’. Betapa di desa Pangsenok keagungan norma dan adat desa tak bisa ditolerir dengan apa pun.
Lagi. Kuberanikan diri menemui orangtua Marhani. Lagi. Selalu. Berakhir sama. “Kacong alas, apa yang bisa kau berikan, hah? Pulang, pulang!” Ah, aku diumpatnya lagi.
Sejurus, sisa belajar agama di pesantren berkelindan. Kawin lari! Ya, Kawin Lari! Perbuatan demikian diperbolehkan oleh agama asalkan menempuh jarak perjalanan jauh yang telah ditentukan. Di sana, di tempat pelarian, aku bisa mengawininya melalui wali hakim. Ya! Wali hakim.
Berbulan-bulan aku dan kekasihku Marhani tinggal di luar pulau kelahiran, meninggalkan Madura, menjadi perantau. Melupakan semua kerisauan, termasuk orangtua Marhani akan anak perawan kesayangannya yang raib karenaku. Kami menjadi sepasang suami-istri dan menghabiskan seluruh waktu bersama di perantauan. Sampai kami memutuskan pulang kampung, setelah berpikir matang, guna menjelaskan segala ihwal peristiwa. Mulanya, orangtua Mrhani mendampratku dan menggunjing kepada setiap orang bahwa diriku adalah ahli neraka. Umpatan itu kuterima adanya. Lama-kelamaan restunya menguap meski cukup berat.
“Kau harus membangun rumah sendiri, dan membelikan istrimu perhiasan yang banyak! Kalau gagal, kugali sendiri kuburanmu. Ingat itu, Cong!” Ancam orangtua Marhani. Serasa kelelakianku dilecehkan. Aku tertantang. Kalaupun tidak karena cinta, aku takkan rela dijadikan bahan umpatan dan bahan makian.
Malam larut. Suara jangkrik saling pagut. Angin berdesir di pelepah siwalan. Aku mengiba meminta izin istriku barang satu atau dua tahun merantau guna memenuhi persyaratan itu. Mata Marhani berkelindan haru. Separuh wajahnya terpotong cahaya dhemar talempek.[3] Ia terisak sedang aku mendengus.
Setahun lebih dalam perantauan, cukup ampuh menjadikan kulitku gelap arang tempayan. Tapi aku senang. Setidaknya beberapa lembar uang berwarna merah campur biru langit sudah cukup tebal masuk kantong. Sedikit lagi. Ya, sedikit lagi. Oh, Bagaimanakah kekabar istriku di sana?
Kuterima sepucuk surat darinya. Terperanjatlah aku. Hamil muda setelah kutinggal setahun lebih? Ah, rasanya tak masuk akal! Apakah ia telah selingkuh? Berzinakah dengan lelaki lain? Keputusanku pulang kampung disimbahi letupan amarah. Di dalam perjalanan menuju pulau Madura, mataku selalu panas. Selalu Awas. Geraham tek berhenti beradu. Ingin rasa, sesampai di rumah, kuceraikan Marhani. Dua tahun kutinggalkan, kenapa baru hamil muda? Aneh. Selingkuh!
Dugaanku tak meleset! Marhani tengah bersenda-gurau dengan seorang lelaki muda di teras depan ketika kutapakkan kaki di halaman.”Marhani…! Dasar kau istri durhaka! Neraka!” Kalap tanpa salam. Marhani dan lelaki muda itu terperanjat, panik dan tanya. Kuperhatikan perut istriku ternyata tak sebuncit orang hamil.
“Cak, kau sudah pulang?” Layaknya orang yang seakan tanpa dosa bergegas ia menghampiriku.
“Alah, Jangan memanggilku Cak lagi! Kau istri durhaka! Kualat! Ahli neraka jahanam!”
Kenapa kau berkata demikian, Cak?” heran.
“Istri biadab! Tega kau bermain belakang!”
“Aku tidak mengerti, Cak.
“Alaaah… Kau berbuat selingkuh ketika aku di rantau, bukan? Lihatlah, bersama siapa kau saat ini, hah?! Siapa lelaki itu!” Apa peduliku Marhani terkaget atau tidak. Apa peduliku dengan suaranya tersengal dan nyaris tak dapat berbicara karena guruhan tuduhanku. Dalam situasi semacam ini mustahil keperempuannya melangkahi kelelakianku.
“Buu..bukan. Dia… dia… Dia keponakanku!” Marhani gugup.
“ Alah, banyak alasan! Kucerai saja kau! Talak! Talak! TALAK TIGA!” tuntaslah apa yang hendak kupungkas. Marhani terisak dan minta ampun. Aku tak menolehnya sedikit pun. Segera, kutinggalkan pergi. Ah, apa peduli.
***
Betapa yang bercokol di otakku ternyata tak berbanding lurus dengan apa yang terjadi: surat yang kuterima saat di rantau adalah sepucuk surat basi yang dikirim Marhani setahun sebelumnya, saat ia hamil muda yang kemudian janinnya gugur. Surat itu telat datang. Dan, adalah benar lelaki muda bersamanya bukanlah seorang selingkuhan, melainkan keponakan jauhnya sendiri yang kebetulan sedang bertamu, yang tak kuingat sama sekali. Sesal dan kesal merajam. Semua jadi berantakan!
Kutemui kiaiku sewaktu dulu guna meminta solusi. Beliau menyarankan harus ada pernikahan helah setelah masa ‘iddah.[4] Helah adalah seorang lelaki perantara yang dapat menghalalkan kembali rujukan orang yang sudah ditalak tiga. Ia harus menikahi perempuan yang ditalak tiga itu kemudian harus wathi’.[5] Setelah itu, sesudah helah menceraikannya, lelaki yang pernah menjatuhkan talak tiga boleh rujuk kembali.
Seperti sebuah pelor lepas, jawaban itu merajam jantung. Sakit. Perih. Tak mungkin perempuan yang kucintai dihadiahkan secara cuma-cuma kepada lelaki lain, terlebih dalam pernikahan. Suka tidak suka jalan ini harus kutempuh jika ingin bergaul lagi dengan istriku.
Aku mencari seorang lelaki yang kira-kira tak mungkin dicintai sesiapa saja, termasuk Marhani. Kupilih lelaki paling jelek, dan kalau bisa cacat. Sampai kutemukan Ma’il, anak muda desa Pangsonok bertubuh dekil, kerempeng, dan pincang. Kupinta ia menjadi helah dengan iming-iming seekor sapi jantan. Ia mau bersepakat, bersegera menceraikan setelah mewathi’ istriku.
“Ingat, kau cuma helah, hanya perantara!” ancamku.
Lumayan bisa tenang, walau sebetulnya begitu terpukul dan hasut kepada Ma’il manakala menyatakan ijab-kabul kepada modin di depan kelopak mataku sendiri. Lebih-lebih ketika kuintip malam pertamanya melalui celah-celah tabing.[6] Kusaksikan Ma’il menyantap tubuh istriku. Ma’il mengecup bibirnya, dagunya, dan seterusnya…
Ah, tak tahan! Kesabaran ambruk. Cemburu meletup.
“Dasar pincang! Bajingan kau Ma’il!” Kulabrak pintu kamar, mengobrak-abrik malam pertama mereka. Marhani dan Ma’il yang cuma bertabirkan seutas selimut mendadak terperangah.
“Patek! Bajingan kau!” umpatku. Kugampar sepotong kayu seadanya ke arah kepala Ma’il. Rupanya ia cukup gesit berlari, terpincang-pincang ke luar kamar dengan sehelai sampirsarung.
Kupandangi Marhani. Melongo. Tak percaya.
“Pernikahan ini kehendakmu! Kenapa kau lakukan ini?! Apa sebenarnya yang kau inginkan?”
“Rujuk.”
“Tapi kau buat penikahan ini berantakan!”
“Aku cemburu!”
“Tak bisa kau merujukku tanpa perantara Ma’il!”
Ah, persetan itu agama!”
“Bajingan kau!” umpatan yang pertama kali kudengar seumur hidup dari perempuan yang kugandrungi.
“Aku cemburu, Marhani…! Si pincang mau mencumbui istriku di mataku.”
“Istrimu? Siapa? Aku? Bukankah kau telah mentalak tiga? Aku sekarang bukan istrimu lagi. Istri Ma’il. Aku kini istri Ma’il, bukan istri lelaki biadab macam dirimu!” Kutampar keras pipinya. Tubuhku gemetar dalam penyesalan, tapi egoku tak sudi minta maaf. Kutinggalkan saja dirinya, mengejar si pincang.
Berwaktu-waktu, berhari-hari, berbulan-bulan kuhabiskan memburu jejak Ma’il yang kurang ajar membawa kabur Marhani. Perbincangan orang-orang di pasar, muak kutelan: Ma’il dan Marhani, berdua lebih akur ketimbang denganku. Jelaslah tersinggung. Ma’il tetaplah si pincang pengecut yang lari dengan perempuan kualat. Maka, kerap kali kujumpai orang-orang Pangsonok, tentulah aku menitipkan salam padanya.[]